Broken He(art)

Have you ever heard of a saying that, realistically speaking, it's meant to push you and force you to be productive even in your darkest days?

Turn your broken heart into an art.
— Meryl Streep

I get how this sayings ever been said at all — a strong emotion, no matter what, is a guaranteed flow of inspiration sometimes. For me, it goes as far as most of the time to almost every time. Especially when it comes to negative emotions — sadness, anger, disappointment, jealousy; the list just goes on.

And guess what?
I did.

I turned my emotional turmoil into literary turmoil.

Menabung Emas

Photo by Rainer Berg

Minggu lalu, aku jadi salah satu mahasiswa yang diundang Bank Indonesia Wilayah Provinsi Jawa Timur untuk datang ke acara penandatanganan perjanjian kerjasama program sosial Bank Indonesia: Beasiswa Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur di Gedung BI Surabaya  lebih tepatnya di Jalan Pahlawan, lokasinya pas banget sebelum Tugu Pahlawan.

Selain penandatanganan MoU dengan berbagai universitas mitra BI untuk Beasiswa BI, juga ada sosialisasi kebanksentralan dan ciri-ciri keaslian uang rupiah untuk para mahasiswa yang hadir disitu. Saat itu, oleh pemateri banyak dijelaskan tentang apa itu bank sentral beserta fungsi dan tugasnya yang notabene belum diketahui masyarakat luas (bahkan aku sendiri juga belum tahu lho, kalau gak dapet ilmu dari situ!). Salah satu tugasnya adalah mengatur inflasi negara agar stabil, karena sedikit inflasi tetap diperlukan untuk perkembangan ekonomi negara.

Dari situ aku jadi inget kasus hiperinflasi di Zimbabwe yang tanda-tandanya udah muncul sejak akhir tahun 90-an. Seketika aku buka Google dan coba cari-cari info untuk dibaca lebih lanjut, karena emang mereka terkenal dengan inflasi yang sangat parah sampai-sampai mata uang mereka satuannya gak main-main: ratusan triliun Zimbabwe Dolar. Buset dah. Perasaan Indonesia yang mata uangnya sampe ratusan ribu menurutku udah banyak banget, gimana mereka.

Kemudian aku dapet sebuah artikel di Quora, yang menjelaskan tentang awal mula hiperinflasi di Zimbabwe itu terjadi, mulai dari penyebab sampai akibatnya (dan bagaimana keadaan mereka sekarang).

Di situ dijelasin lengkap banget, terutama soal uang yang bener-bener kehilangan nilai mereka dan gak dihargai sama sekali, cuma hard assets aja yang punya potensi memiliki nilai tetap. Contoh aset keras misalnya tanah, rumah, emas, dll. Dan aku setuju sih, karena di kehidupan sehari-hari bisa kita lihat kalo kita investasi tanah bakal sangat menguntungkan, karena makin lama makin naik harganya (mostly karena inflasi, tapi the point is still the same: nilainya bakal tetap atau bahkan lebih tinggi).

Dari situ aku mulai mikir, aku harus mulai nyicil untuk nabung dalam bentuk hard asset karena selama ini aku nabung ya cuma dalam bentuk uang di bank. Padahal, overtime nilai uang itu sendiri akan tergerus oleh inflasi. Jadi kalo buat investasi jangka panjang kurang ideal, karena nilainya bakal berkurang seiring berjalannya waktu. Aku pun mulai mempertimbangkan untuk investasi dalam bentuk emas.

Kenapa emas?

Alasan pertama, karena harganya masih tergolong terjangkau untuk sebuah hard asset. Kita bisa beli mulai dari 1gr, kalo udah punya uang lebih bisa ditingkatkan secara progresif. Jadi, bisa banget buat disesuaikan sama budget kita pada saat itu. Kebetulan budget-ku tergolong lumayan, jadi aku bisa beli agak banyak dengan harga lebih murah tiap gramnya.

Alasan kedua, karena proses jual-belinya gak ribet sama sekali. Kalo mau beli ya beli aja, kalo mau jual ya jual aja. Gaada proses yang panjang kaya kita mau beli tanah atau rumah, yang harus balik nama, bayar pajak, ke notaris, dsb. Yang penting adalah ada sertifikat keaslian dan kemurnian emas itu sendiri, especially kalo kita beli emas dari Logam Mulia PT. Antam.

Alasan ketiga, karena nilainya cenderung stabil atau bahkan naik. Gaada tuh namanya ketar-ketir tiap hari mantengin nilai saham buat liat harganya naik atau turun, jadi sangat cocok buat investasi jangka panjang.

Alasan ketiga, karena bener-bener minimum risk, sehingga cocok buat pemula yang ingin mencoba investasi dalam hal lain selain cuma dalam bentuk uang.

Jadi gimana, tertarik buat mencoba menabung emas?

The Story Behind My Short Hair

Drastic? I think so.

Breaking news!
Well, if you've been following me on my social medias then this isn't even a breaking news...

But!
If you haven't!
Then breaking news it is!

I CUT MY HAIR SHORT.

Like, real short.
Super short.
Pixie hair short.
Undercut in barbershop short.

Why, you ask?
And how?
Well, let's take a look back...

Just a month ago, I used to have a barely-longer shoulder-length hair, probably it'd pass as a lob (the acronym for long bob) (I think?). For as long as I could remember well over primary school, I've never taken any risks in my hairstyles (except hair color, which I love to experiment with once in a while). My hair used to revolve around the "safe" styles: long shaggy, long layered, bob, lob, or this-hairstyle-I-can't-name-because-the-last-time-I-went-to-salon-was-when-I-finished-high-school improvisation, DIY haircut — with side or front bangs, some twist of shaved inner-back side to make it less frizzy, etc.

Here are the revolution of my hair (through my Instagram page, in a chronological order):

Dear My Future Children

I'm not letting my kids to live in such a toxic world where everything is in a chaotic state and technology development couldn't even help humans to humanize humankind;

I'm not letting my kids to live without any security of their future wellbeing especially in regards natural resources and other essentials like employment and settlement for whichever municipality they'd choose to settle in the world is still an ugly place to live;

I'm not going to throw them into a dungeon where a man is a wolf to man and make them wish they'd never been born instead because they didn't even asked to be born in the first place and frankly that'd be the most heartbreaking thing I'd heard because it is the most heartbreaking thing I've ever heard for I've listened to people that I love saying it in front of me and I could watch the lights in their eyes slowly faded away and I couldn't afford my future kids to feel the same;

Because I want them to have the best and I want them to have all the good things in the world even though that'd be impossible but I still want them to live in a better world where everyone could love whoever they want to love and everyone could believe whatever they want to believe and intersectionality is a thing and everyone is equal and humans are thriving for heaven on earth creating a better place for everyone.

But the world isn't ready yet;
Neither am I,
Neither are my future kids.