gDayX & DevFest 2014 Indonesia in Surabaya - Build A Meaningful Startup

gDayX & DevFest adalah acara tahunan kolaborasi dari GDG (Google Developer Group) dan GBG (Google Business Group) Surabaya. Untuk tahun ini, acara diadakan pada hari Sabtu tanggal 9 November dan bertempat di Gedung Suara Surabaya Centre.

gDayX & DevFest Indonesia dengan tema "Build A Meaningful Startup"

Untuk bisa menjadi peserta gDayX & DevFest 2014, pertama-tama harus registrasi dulu secara online dengan mengisi form dan menulis alasan mengapa ingin mengikuti acara ini. Saya yang berlatar belakang sama sekali bukan dari Developer maupun Enterpreneur, mencoba apply dengan harapan saya bisa memanfaatkan Google API dengan lebih baik. Dan ternyata, saya terpilih menjadi peserta! Saya sangat senang dan sudah tidak sabar untuk bisa menghadiri acara ini, terutama setelah mengetahui bahwa pembicara-pembicara yang akan hadir sangat keren dan sukses.

*klik gambar untuk memperbesar

Yansen Kamto - Chief Executive, Kibar (He told everyone to call him Handsome)

Benny Fajarai - CEO, Kreavi (REALLY HYPED FOR THIS PARTICULAR SPEAKER)

Alek Kowalski - Founder, Sunday Market (I wonder if he got some Polish blood in him)

Danton Prabawanto - CEO, BeOn

Erica Hanson - Developer Relations Program Manager, Google Southeast Asia

Dr. Ir. Achmad Affandi, DEA - Head of LPTSI, ITS

David Boy Tonara - Lecturer, Ciputra University

Justinus Andjarwirawan - Kepala Pusat Komputer, UK Petra

Alexander Augusta - Head of Creative, Kibar

Indra Maryati - Lecturer, STTS

Stevanus Djojokusumo - Founder, Digits Mobility

Kelvin Allendro - Founder, Pekku.com

Dennis Adishwara - CEO, Layaria (He used to be an actor ffs)

Bayu Skak - YouTube Creator (NEW YOUTUBE CRUSH!!!11!1!11!!!ONE)

Pada hari-H, karena saya sudah tidak sabar dan terlalu excited (dan takut macet, karena venue berada di Surabaya Barat sedangkan rumah saya di Surabaya Timur), saya berangkat pagi-pagi sekali dan pukul 7 pagi sudah sampai di tempat. Ternyata, panitia masih bersih-bersih dan mempersiapkan venue dan registrasi masih belum dibuka. Alhasil, saya harus menunggu sampai jam 8. Dan ketika sudah jam 8, masih molor dan belum juga dibuka padahal banyak peserta yang sudah datang (Indonesians with their jam karet smh). Menurut saya, panitia harus antisipasi akan adanya kemungkinan peserta yang datang jauh sebelum jam registrasi dan bisa berusaha membuat meja registrasi dan venue accessible untuk peserta.







Ketika sudah masuk di tempat, ternyata acara baru akan dimulai pukul 9:30, jadi MC menganjurkan supaya para peserta berfoto-foto terlebih dahulu di photo booth yang sudah disediakan. Of course, being a big camwhore myself, I immediately rushed there.

PLEASE EXCUSE MY HORRIBLE FACE SMH LIGHTING GAME WEAK

Setelah selesai berfoto-foto ria, para peserta kembali ke venue untuk melanjutkan rangkaian acara. Acara dibuka oleh Danton Prabawanto dan Indra Maryati, dilanjutkan dengan penjelasan mengenai apa dan bagaimana GDG dan GBG Surabaya.


For our surprise, ternyata Ibu Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, juga menyempatkan datang untuk membuka acara ini! Beliau menyemangati kami sebagai arek-arek Suroboyo agar mengembangkan industri kreatif dan memulai Startup, dan beliau sangat mendukung acara-acara seperti ini. Beliau juga mengatakan agar "jangan cuma jadi PNS, nanti tau-tau udah disidik KPK aja" lmao.


Setelah selesai memberikan sambutannya, acara dilanjutkan dengan pembicara pertama, yaitu Yansen Kamto sebagai CEO dari Kibar yang memberikan tips-tips agar Startup bisa maju dan berkembang. By the way, beliau minta supaya dipanggil Handsome, tapi khusus cewek yang boleh LMAOOOOOOOOOOOOOOO. Oh, dan menurut saya beliau memberikan salah satu advice yang paling mengena buat saya, yaitu:

don't be successful; but instead, useful.


Acara dilanjutkan dengan Panel Discussion yang mengangkat tema Opportunities in Tech-based Creative Industry, menghadirkan Benny Fajarai sebagai CEO dari Kreavi (GANTENG ABIS SERIUSAN MIRIP LIONEL MESSI), Wicak Hidayat sebagai jurnalis dari Kompas TeknoAlek Kowalski sebagai Founder dari Sunday Market (acara beken gilz di Sutos), dan Danton Prabawanto sebagai CEO dari BeOn.


Ketika sudah mulai banyak peserta yang tidak konsentrasi mengikuti acara, MC membuat games untuk ice breaking, dengan memilih 3 pasang peserta. Games ini cukup bisa mengembalikan fokus dan konsentrasi peserta agar tidak jenuh.


Selanjutnya, Erica Hanson sebagai Program Manager Developer Relations dari Google SEA yang memberikan materi dan informasi mengenai Google dan program-program yang mendukung dunia untuk memulai Startup. She's living her dream, dari awal dia bekerja di AdSense, Google San Francisco, hingga sekarang. I WANT.


Perut sudah mulai lapar dan masih belum waktunya Ishoma juga. Ternyata masih ada Benny Fajarai yang akan berbagi pengalaman dan memberikan advice untuk memulai Startup. Ia menceritakan awal mula terbentuknya Kreavi dengan modal yang sangat minim, namun ia tidak mudah menyerah karena ia ingin membentuk sarana dan wadah kreator di Indonesia, bukan melulu mengejar materi. Selain itu, ia juga memberikan tips agar dalam memulai Startup harus memiliki 3P: Purpose, Passion, dan Partner.


THANK GOD setelah Benny selesai memberi materi, waktunya Ishoma. Dengan biaya pendaftaran gratis, it was quite a surprise ternyata panitia memberikan konsumsi. Sungguh membahagiakan (terutama bagi anak kos).



I was taking documentaries with mouth full for writing this post when it was snapped.

Setelah Ishoma, acara berlanjut dengan Panel Discussion sesi kedua untuk belajar membangun Startup bersama Stevanus Djojokusumo sebagai Founder dari Digits Mobility dan Kelvin Allendro sebagai CEO dari Pekku.com.


Selesai mengikuti Panel Discussion sesi kedua, dilanjutkan dengan sesi ketiga yang menghadirkan pembicara-pembicara dari kalangan akademisi, yaitu Ahmad Affandi sebagai Head of LPTSI dari ITS Surabaya, David Boy Tonara sebagai Lecturer dari Universitas Ciputra, dan Justinus Andjarwirawan sebagai Head of IT dari Universitas Petra.

Kemudian, ada Alexander Augusta sebagai Head of Creative dari Kibar yang memberikan materi bagaimana Startup bisa dimulai hanya dalam waktu 5 hari dengan memangkas step-step yang tidak perlu dan kurang efektif waktu.


Di penghujung acara, ada Dennis Adishwara sebagai CEO dari Layaria (MANTAN AKTOR AADC LHO OMG) yang memberikan inspirasi agar kita terus berkarya dan meningkatkan kualitas Startup secara terus-menerus seiring berjalannya waktu dan berkembangnya Startup tersebut, dalam hal ini sebagai kreator video. Ia menunjukkan perkembangan web series dari awal dirintis hingga sekarang, dan kerap membantu kreator-kreator dalam meningkatkan kualitasnya mulai dari kualitas gambar, konten, dan sebagainya.

Acara kemudian ditutup dengan penampilan keren dari YouTuber lokal, yaitu Bayu Skak. Jujur, sebelumnya saya tidak pernah tahu tentang Bayu Skak, tapi setelah saya melihat performance nya I WILL DEFINITELY SUBSCRIBE TO HIM. He's so funny :'D

Setelah selesai, peserta diberi seminar kit (kok di akhir acara ya lmao) dan sticker.




All in all, this event is so useful and informative for me! It also encouraged the participants to start their own Startup and motivated them through awesome & inspirative speakers. Thanks a lot, GDG & GBG Surabaya for gDayX & DevFest 2014! I really enjoyed it a lot, will definitely participate in future events.

iPhone 6 : Bigger = Better?


Bigger isn't always necessarily better.
[9/19] September 9th was a big event for the mobile device industry (or for the fanboys) as it was finally that time of the year for the annual Apple eventusually unveils the new iPhone; the timeline is clear. Held in Flint Center in Cupertino at 12 PM (Pacific), it wasn’t just like any other Apple event as Tim Cook, Apple’s CEO, introduced two iPhones just like what was rumoured. Heck, Apple devices are always hyped big timeseven far before the official statement.

The first one was the iPhone 6, it has a 4.7-inch display with the resolution of 1334x750 pixel. And the big brother, the iPhone 6 Plus, has a whopping 5.5-inch display with the resolution of 1920x1080 pixel. Sounds like an improvement, doesn’t it? Seems big in the number? But believe me, you might wanna hear about this first.
Apple went out of the comfort zone with the iPhone 5, as they broke the long chain of 3.5-inch display by extended it to 4-inch. The resolution was also increased along with the size, making the same “Retina Display” with the exact same pixel density. For the general public’s reactions, they were enthusiast and wouldn’t hesitate to buy one, as for the size it was still easy for one-handed use. But with the iPhone 6 and 6 plus, they both walk in a whole new different level.

In 2014, people have already expected for an advancement to one of the most well-known smartphones in the world (or so-called, the most advanced; but I disagree). At least, to keep up with the current flow of technology. When they found out that the iPhone 6 would carry the same 326ppi pixel density, many of them ended up disappointed―even the fanboys―from the comments under Apple’s video promoting iPhone 6 on YouTube. They overall weren’t so happy with the size increase as they claimed iPhone 6 and 6 Plus didn’t look like Apple, but look more like Android devices. They complained that with a device so big, it would be hard for them to continue the one-handed use tradition on the iPhone 6. Also, they at least expected an improvement to the screen. Yes, the resolution is bigger, but with that screen size, the pixel density remained the same―326ppi pixel density, long ago since the iPhone 4. In comparison, HTC One M8 that was released in 2013 has 441ppi pixel density. Still not convinced? You can get Nexus 5 which has 445ppi pixel density in both 16 and 32GB edition for much, much less price than the iPhone 6 (hint $399 hint).

For the iPhone 6 Plus, some people said that Apple was like trying to compete with the company’s own iPad mini. Now that’s confusing. Why would you make a product that has a chance to decrease the sell margin of your own previous product with the same function? (update: it is now affecting the iPad and iPad mini) Moreover, with the bendgate (and the newest, hairgate) thing going on, this surely isn't a good sign for Apple.

Years of playing safe with their smartphone lineup, Apple finally took some guts to get out with different kinds of innovations. People either love it, hate it, or even bash the hell out of it. For the iPhone 6 and 6 Plus though, the public have mixed-feelings about them. The debates are still going on. But no matter what, their devices―that came with an enormous amount of rumours and hype all over the internet―would still sell like crazy. It’s Apple, after all. [deth.]

Disclaimer: Everything I wrote in here is my opinion, so it is most likely that it will be biased. Don't get me wrong, I'm a HUGE fan of iOS, I've always been admiring its beautifully designed and user friendly interface. But I just straight up don't like the way the Apple company is running things. That's why I'm almost certain that it will be biased.