Review Buku: Understanding Media: The Extension of Man oleh Marshall McLuhan

Judul Buku:

Understanding Media: The Extension of Man

Penulis:
Marshall McLuhan

Penerbit:
The MIT Press

Tahun Terbit:
1964

-

“The medium is the message.”

Sebuah kalimat paling ikonik dalam buku Understanding Media: The Extension of Man yang masih diperbincangkan hingga sekarang, lebih dari 50 tahun sejak pertama kali dilontarkan oleh McLuhan. Hanya terdiri dari lima kata, namun sanggup menggemparkan para akademisi, terutama mereka yang berfokus di bidang media.

Inti dari buku ini adalah pendapat McLuhan yang menyatakan bahwa setiap medium yang ada di dunia merupakan ekstensi dari pancaindera yang dimiliki oleh manusia. Oleh karena itu, the extension of man – ekstensi dari manusia.

Banyak contoh yang diberikan oleh McLuhan dalam bukunya mengenai bagaimana medium bisa menjadi ekstensi dari pancaindera manusia, contohnya:
  • ‘[t]he man-made social environment as an extension of man's physical body ...’ 
  • ‘... [t]he wheel as an extension of the foot ...’ 
  • ‘… [t]he walled city itself an extension of our skins, as much as housing and clothing.’ 
  • ‘[e]lectricity points the way to an extension of the process of consciousness itself …’ 
  • ‘… [t]hat number is an extension of the physical body of man, an extension of our sense of touch.’ 
  • ‘[c]lothing as an extension of our skin …’ 
  • ‘[l]ighting as an extension of our power …’ 
  • ‘[t]he same electric technology, extended to the job of providing global thermostatic controls, points to the obsolescence of housing as an extension of the heat control mechanisms of the body.’ 
  • ‘[p]sychically the printed book, an extension of the visual faculty …’ 
  • ‘[a]rt is not just play but an extension of human awareness in contrived and conventional patterns.’ 
  • ‘… [m]an had initiated that outering (sic) or extension of his central nervous system that is now approaching an extension of consciousness with satellite broadcasting.’

Beberapa contoh di atas hanyalah segelintir dari banyak perumpamaan lain yang dinyatakan oleh McLuhan mengenai ekstensi dari pancaindra manusia melalui medium yang ada.

Seiring berjalannya waktu saat membaca buku ini, muncul banyak pertanyaan dan pendapat pribadi yang seakan-akan hendak mengenyahkan argumen McLuhan dan menganggap contoh-contoh yang diberikannya tidak relevan.

Pertanyaan pertama, mengapa sebuah kata “medium” dijabarkan dengan sangat luas?

Bagaimana bisa sebuah bola lampu dianggap medium? Baju? Roda?

Namun setelah berusaha keras mengikuti jalan pikir McLuhan, rupanya medium yang dimaksud olehnya tidak hanya sekedar “medium” atau “media”. Seperti yang sudah diutarakan di atas, McLuhan menyebutkan bahwa medium merupakan ekstensi dari pancaindra manusia – tubuh manusia – alih-alih mengekor pendapat kebanyakan orang yang menganggap bahwa medium hanyalah sebatas “media” seperti televisi, radio, koran, dsb.

Bagi McLuhan, medium memediasi atau memerantarai ikatan antara diri kita dengan dunia nyata – seakan-akan kita menjalani hidup kita melalui medium tersebut. Bila mengacu pada persepsi McLuhan terhadap makna dari medium sendiri, argumen beserta contoh yang diberikan olehnya akan terlihat masuk akal. Tetapi, tetap saja bahasannya terlalu luas.

Dalam konteks ilmu komunikasi, tidaklah salah ketika mendengar kata “medium” atau “media”, yang terbayang adalah televisi atau radio. Akan sangat kebingungan bagi mereka yang belum pernah membaca buku ini dan berusaha mengikuti logika berpikir penulisnya ketika disodori argumen bahwa roda merupakan sebuah medium. Alangkah kalang kabutnya mereka mencari tahu mengapa bisa seperti itu.

Pertanyaan kedua, bagaimana bisa medium merupakan pesan itu sendiri? Dalam bukunya, McLuhan menulis, ‘[t]he "content" of any medium is always another medium. The content of writing is speech, just as the written word is the content of print, and print is the content of the telegraph.’ Dari satu sisi, pendapat McLuhan memang benar – bahwa dalam tulisan akan ada pikiran kita, dalam cetakan akan ada kata-kata tertulis, dan dalam telegraf akan ada cetakan.

Dari sisi lain, McLuhan terlalu menyederhanakan arti kata “konten” maupun “pesan”. Melihat kembali kutipan di atas, bisa dianggap bahwa McLuhan mengartikan kata “konten” secara harfiah. Tentu saja, dalam suatu tulisan pasti akan tertuang pikiran kita. Dalam suatu cetakan pasti akan tertulis simbol-simbol verbal berupa susunan huruf yang membentuk kata-kata. Dalam suatu telegraf pasti akan ada hasil cetakan.

Tapi, McLuhan bagai acuh tak acuh, tidak mengindahkan pemahaman orang-orang pada umumnya tentang “pesan”, atau sederhananya: apa yang ingin disampaikan. Ia hanya membahas konten berdasarkan asumsi artinya secara harfiah. Padahal, medium atau media seharusnya membawa pesan untuk disampaikan. Selain itu, dalam kalimat khasnya “the medium is the message” seakan-akan menunjukkan bahwa pesan tidaklah penting, yang penting adalah medianya.

Padahal, isi dari pesan itu sendiri bila tidak lebih, adalah sama pentingnya dengan dengan medium yang digunakan untuk menyampaikannya. Lagi-lagi, bila tidak bisa mengikuti jalan pikiran McLuhan akan banyak menimbulkan miskonsepsi dan mispersepsi saat membaca buku ini.

Setelah membolak-balik buku ini, beberapa kalimat mengindikasikan ketidakpaduan istilah yang dipakai oleh McLuhan dengan apa yang dimaksud (oleh orang-orang pada umumnya).
  • ‘[t]his fact merely underlines the point that "the medium is the message" because it is the medium that shapes and controls the scale and form of human association and action.’ 
  • ‘[f]or the "message" of any medium or technology is the change of scale or pace or pattern that it introduces into human affairs.’

Dua kutipan di atas semakin menguatkan pendapat bahwa sebenarnya “message” dalam “the medium is the message,” yang dimaksud McLuhan di sini adalah “effect”, karena dalam bukunya beberapa kali dia mengutarakan apa yang akan disebabkan oleh medium itu sendiri.

Buku ini bukanlah salah satu buku yang bisa dengan mudah dipahami, pembaca dituntut untuk bisa memutar otak agar bisa mengikuti jalan pikiran sang penulis agar mendapatkan mutual understanding.

Maka dari itu, salah satu kelemahan buku ini adalah susahnya mendapatkan pemahaman apabila kita tidak berusaha untuk masuk ke dalam pikiran penulis. Rasa yang didapatkan ketika membaca buku terbitan tahun 1964 ini hampir sama seperti ketika membaca buku Das Kapital yang ditulis oleh Karl Marx yang telah tersohor namanya.

Kelemahan lain yakni terlalu luasnya bahasan McLuhan. Tak terhitung berapa banyak kali terbesit dalam pikiran, “apakah saya membaca buku tentang ilmu komunikasi?” karena bahasan McLuhan yang melebar ke mana-mana. Terutama pada bagian Weapons: War of the Icons. Ia membahas tentang senjata dan perang, Amerika dan Rusia, yang sangat mungkin disebabkan karena terpengaruh oleh Perang Dingin (jangan lupakan fakta bahwa ia menulis buku ini pada era tersebut).

Tapi, tak terhitung berapa banyak kali pula terucap decak kagum saat membaca buku ini. Selain memiliki selera humor yang bagus (karena permainan kata “message”, merubahnya menjadi “mess age”, “mass age”, bahkan “massage”), beberapa poin yang dilontarkan oleh McLuhan masih terdengar sangat relevan bahkan hingga saat ini. Terutama ketika membaca kata “global village”, semakin terkagum-kagum lah terhadap sosok McLuhan.

Bayangkan, ia sudah mempunyai pikiran sedemikian majunya, bahkan pada masa sebelum ditemukannya internet!

Saking terheran-herannya, sempat terbesit dalam benak bahwa jati diri McLuhan yang sebenarnya adalah orang yang datang dari masa depan, menggunakan mesin waktu untuk kembali ke masa lalu, kemudian menuliskan buku tentang masa depan.

Bagaimana tidak, pada pertengahan tahun 60-an ia sudah memiliki pemikiran mengenai “global village”, bagaimana interaksi manusia akan berlangsung di suatu ruang virtual di masa depan. Ia juga mengutarakan pendapatnya bahwa di masa yang akan datang pemikiran manusia hampir sepenuhnya akan diperantarai oleh medium elektronik.

Apakah dia seorang cenayang, ataukah hanya sekedar orang yang sangat amat visioner dan way ahead of his time, hanya McLuhan dan Tuhan yang tahu.

P.S. I got the cheap conclusion above thanks to my overheated brain, wheezed smokes as I tried to elaborate "the medium is the message" even further.

No comments:

Post a Comment