I didn't lose you, but you're long gone

Photo credit

Four years,
Two breakups,
And everything in between.

The first year, when we first knew each other. Social media really is an amazing invention. Without it, we couldn't have possibly met. I still remember that night clearly, you were hurting because of your ex-boyfriend. Red-eyed, I went to the coffee shop late night only to listen to you cry.

The second year, when we got busier. But we still made sure we got time to each other. Even when we didn't, we still knew we had each other. You, being a sophomore in university. And me, being a freshman in the same university as you. I was euphoric, we could meet more frequently. Moreover when you told me about your new boyfriend, I couldn't be happier for you.

The third year, when we got closer. We watched a band concert together, the very same band we both were obsessing over, completing our promise we made two years ago. I still remember that night clearly, you were waiting for me to be finished with my work at the office, Exhausted, I went to the coffee shop late night only to exchange conversations with you.

The fourth year, when we got distant. I finally had a boyfriend, we might not go out as much as we used to do. But I still regarded you as someone precious. And then you met these two girls, especially this one girl you went out so many times with. I couldn't help but kept thinking to myself,
"She got something that I couldn't possibly have, she got so much more than me."
I started to feel replaced. And then you did the same to your boyfriend. Before I knew it, all of a sudden I was no longer inside any of your friends list on every social media. At that moment I knew, you are no longer the same person as the one you were. You left people who made you you behind. Replacing every single one of them with someone new.

The first heartbreak drew us together,
But the second one just drew us further.

Everything in between was some bittersweet memories.
Sweet, because our laughter keep echoing in every moment we shared.
Bitter, because in the end memories are what's left.

Thank you for the memories.

-

2013-2016
Is this really the end?

You, Who Cries to Sleep at Night

Photo by Bayu "Paktuwa"

You, whose mind is loud. You let your demons in, for you want to let me out. It's all because you can't stand feeling so empty. Of course, who'd be able to bear an overwhelming amount of emptiness? Even I can't. The voices keep shouting the same words, echoing around the void in your head, but you couldn't care less. All the unchanging noises are better than the quiet, after all.

You, whose body language I speak so eloquently. I can't imagine the day when I'd be forced to chant a monologue of despair with only this mouth of mine. I'd be damned if I could no longer graze you as whole with my five senses. And now I figured, you can't too.

You, whose age is getting shorter and shorter with that burning spirit of yours. You keep longing for the day when you'd be free of anguish, poor you. You burn, like a fuse of a dynamite. Like the flame on the edge, we're getting closer. Death is waiting just right on the corner.

But oh you, whose cry is getting louder and louder. Afraid, you shall not.

For when the time is up, we'd leave everything but regrets. We'd leave nothing but trails of our existence. With every breath we take, we'd leave something that is a speck of awe and wonder coming from our surroundings. Our presence would still linger. And in that moment, we'd be together forever.

Afraid, you shall not.

-

Please don't be afraid,
I'd only be gone for a while.

Catfish: Permainan Identitas dan Muslihat Berkedok Anonimitas - Artikel Ilmiah tentang Internet


Abstract

As technology improved and ever since the Internet has been invented, came The Second Media or New Media Age that enables the new way to communicate with each other via computer.

Different from Face to Face communication (FtF), Computer-Mediated Communication (CMC) uses the Internet as some sort of virtual space which has a role in connecting everyone from the edge of the world, with no limit of space nor time.

The Internet is a place where anonymity is glorified to develop an opportunity to create a totally different persona of yourself apart from your real life identity; given the fact that the communication is mediated by computer in cyberspace which would later cause social deteritorialization—even deterioration. But those no-limit policy wasn’t exactly limitless.

In fact, there is a huge gap and boundary that separates FtF and CMC. The seemingly real-time interaction on the Internet is apparently tied by the limitedness of space and time. In such situation, the risk of someone pretending to be someone they're not to create false identities is huge.

Rather than a pseudonym, they built a fictional, completely different alter ego from what they really are in real life, usually aiming for establishing an online relationship with someone on the Internet, creating a whole new individual. This practice has become so common on Facebook, Twitter, Instagram, and other social medias, that the world has a dedicated term to call those certain imposters.

We’d call them, a Catfish.

-

Abstrak

Seiring berkembangnya teknologi dan ditemukannya Internet, datanglah masa Second Media/New Media atau Media Baru yang memunculkan cara baru untuk berkomunikasi dengan satu sama lain melalui komputer.

Berbeda dengan komunikasi tatap muka secara langsung (Face-to-Face Communication atau FtF), komunikasi yang termediasi oleh komputer (Computer-Mediated Communication atau CMC) menggunakan Internet sebagai suatu ruang virtual yang memiliki peran untuk menghubungkan semua orang dari seluruh penjuru dunia, tanpa adanya batasan ruang ataupun waktu.

Internet merupakan suatu tempat di mana anonimitas diagung-agungkan, karena ia memberi kita kesempatan untuk membangun persona diri sendiri yang sangat bertolak belakang dengan identitas kita di dunia nyata; didukung dengan fakta bahwa komunikasi tersebut termediasi oleh komputer di ruang siber yang nantinya akan menyebabkan deteritorialisasi sosial — bahkan deteriorisasi.

Akan tetapi kebijakan tanpa batas tersebut belum tentu tidak terbatas. Faktanya, terdapat sebuah jarak dan batasan sangat besar yang memisahkan FtF dengan CMC. Interaksi yang terlihat real-time di Internet ternyata terikat oleh keterbatasan ruang dan waktu. Dalam situasi tersebut, resiko di mana seseorang berpura-pura menjadi orang lain untuk menciptakan identitas palsu sangatlah besar.

Alih-alih menggunakan pseudonym atau alias, mereka malah membuat alter ego yang amat berbeda dari kehidupan mereka di dunia nyata, menciptakan sesosok individu yang sama sekali baru. Hal tersebut biasanya bertujuan untuk membangun hubungan secara online dengan seseorang di Internet. Praktek ini menjadi hal yang sangat sering ditemui di Facebook, Twitter, Instagram, dan media sosial lainnya, hingga muncul sebuah istilah yang didedikasikan khusus untuk menyebut mereka.

Mereka adalah Catfish.

Keywords: Catfish, Internet, Dunia Maya, Cyberspace, Anonimitas, Pseudonym, Teori Media Baru, Computer-Mediated Communication, Face to Face Communication, Facebook, Media Sosial

Jakarta, 4 November 2016

Photo by Agus Dwiyanto

Hari itu, 13 Mei 1998.

Ibu saya menghabiskan waktu 4 jam mencari jalan alternatif untuk pulang dari kantornya di cakung ke rumah kami di daerah jakarta barat. Ia menangis sepanjang jalan mengingat saya di rumah yang baru berumur setahun hanya bersama baby sitter.

Hari itu. Ketika dagangan kami dijarah, toko kami diporak-porandakan, dan mereka tertawa-tawa sambil berlari-lari mendorong troli berisi barang hasil jarahan.

Hari itu, ketika perempuan2 tionghoa seumur saya sekarang, diperkosa dan dibunuh. Tanpa konfilk pribadi, hanya berdasarkan sentimen rasial.

Saya teringat teman saya bercerita. Pada hari itu, semua lelaki di keluarganya berjaga-jaga di depan rumah dengan pedang samurai. Ia, yang waktu itu baru berumur 4 tahun, menganggap hal tersebut merupakan suatu aksi yang heroik tanpa memahami betapa mencekamnya situasi pada hari itu.

Saya jadi berpikir, mengapa pada hari itu keadaan berubah menjadi sedemikian parah? Apakah hari itu adalah puncak dari sebuah polemik dan kebencian terhadap kaum saya yang sudah terpendam sejak ratusan tahun yang lalu?

-

Hari ini, 4 November 2016.

"Nanti hari jumat ga usah pulang." Pernyataan tersebut terlontar dari orang tua saya padahal saya sudah tidak pulang lebih dari 2 minggu dan rumah hanya berjarak 2 jam dari domisili saya saat ini.

"Apa mendingan kamu bolos aja besok?" Ibu saya menyarankan hal tersebut kepada adik saya padahal beliau sangat benci anaknya bolos sekolah/kuliah.

Lyn: Inkonsistensi yang Menghambat Mobilitas Masyarakat Urban

Gedung-gedung pencakar langit tegak berdiri menghiasi pemandangan kota. Proyek-proyek apartemen baru kian lama kian banyak. Itulah Kota Surabaya — sebuah kota metropolitan, kota terbesar di Indonesia bagian Timur, yang juga menjadi pusat bisnis dan perdagangan selain Ibu Kota.

Kegiatan di kota metropolitan tentunya menuntut punctuality atau ketepatan waktu sebagai salah satu ciri gaya hidup masyarakat urban: kehidupan yang serba cepat atau fast-paced dengan mobilitas tinggi. Penduduk Kota Surabaya pun begitu, utamanya karena adanya diferensiasi antara distrik bisnis dengan distrik pemukiman, mengharuskan mereka harus rutin melakukan mobilitas dalam kota dari satu tempat ke tempat lan.

Sayangnya, gaya hidup ini kurang didukung oleh keadaan infrastruktur dan fasilitas publik di Kota Surabaya. Tidak tersedianya transportasi publik yang layak guna menyebabkan kemacetan di jalan raya yang makin hari makin bertambah parah, karena masyarakat lebih memilih mengendarai kendaraan pribadi. Permasalahan ini menjadi sebuah lingkaran setan yang tak kunjung selesai dan menghambat perkembangan kota.

Inovasi dan pembaharuan terkait transportasi publik dalam kota seperti hampir tidak ada. Rencana pembangunan monorail yang sempat dicanangkan pun seperti tidak mengalami kemajuan, hingga saat ini masih belum terdengar update terbaru mengenai proyek tersebut.

Penduduk Kota Surabaya pun akhirnya terpaksa harus pasrah dan “puas” dengan beberapa moda transportasi publik dalam kota yang tersedia tanpa adanya struktur dan sistemasi yang jelas serta hampir tidak adanya konsistensi.

Just Let Me Graduate Already

When I was barely a freshman in university, I (sadly) had set a pretty high standard for myself regarding the academic aspect. I would graduate with my GPA above 3.50, earning that title every single college student in Indonesia (or basically everywhere else? IDK, I couldn't tell) has been dreaming of — cum laude (((no way in hell I'm going for summa cum laude though, which would require me to maintain my GPA to be above 3.80 lmao I ain't that insane))).

Hell, I even promised to both of my parents that I would score both that cum laude title AND graduating within only 7 semesters (normally it would take at least 8 semesters or more to graduate).

Take note, I promised them.

Now I started to feel really remorseful of my past self's big mouth and hella high optimism, because dAMN GIRL, REALLY? REALLY YOU GOTTA BURDEN YOURSELF WITH THOSE PROMISES?

Not only you promised to graduate within only three and a half years, you gotta promise that you'd get the cum laude title as well? My God.

A Bad Habit of Mine

Photo credit


People don't joke around when they said that high school might make or break you.
For me — or at least mentally — it did the latter.

Three years of wearing the white-grey combo uniform everyday for five days in a week wasn't exactly the most pleasant experience I've ever experienced in my life, to be honest. In fact, it was one of the worst. Trying not to get too much into detail to keep it short and to avoid TMI, let's just say, my high school life sucked. Bad.

Real bad, actually.

Three whole years played a pretty big part of my life, considering I've only been living for nineteen years. I think it contributed majorly to my current fucked up mental health state, though I constantly try to let in more positivities in my life (and I can proudly say that my boyfriend helps me a lot).

Combine those hard times with my already low self-esteem and crippling mental health, you'd get a scary mind that screams all sorts of thoughts. And you have to deal with it in daily basis. Most of the times it comes oh-so-suddenly, you almost have no chance to prevent it from emerging.
Sounds like fun, eh?

Well, let me just break it to you.

Sajak Tanpa Huruf 'i' - Nestapa

Apa kabar, kawanku?
Maaf mengganggu,
Hamba mau beberapa waktu.
Walau hamba tahu,
Betapa kalutnya kau
Kala sang surya jatuh.
Bukannya lancang,
Hamba hanya hendak bersua
Dengan sebuah prosa
Berbekalkan beberapa patah kata
Tentang duka dan lara terbesar
Sepanjang hayat hamba.
Dahulu kala,
Saat hamba baru saja tamat sekolah
Mendamba masa untuk belajar tanpa seragam.
Ayah dan Bunda tak mengajakku ke desa,
Karena upacara kelulusan sekolah hamba.
Sepekan lamanya,
Hamba bersabar menunggu kedatangan mereka.
Malam saat mereka seharusnya pulang,
Ayah dan Bunda tak segera datang
Walau sudah tengah malam.
Rasa-rasanya sebelumnya mereka tak pernah
Terlambat tanpa sebab.
Cemas, hamba menjulurkan lengan
Agar mampu menelepon orang tua
Yang sudah terlalu lama tak berkabar.
Kumandang nada sambung kudengarkan dengan seksama,
Mengharap akan sapaanmu yang khas,
"Ada apa, nak?"
Hamba menunggu lama,
Sangat lama.
Namun suaramu tak kunjung ada,
Hanya dengung-dengung monoton
Yang memekakkan pendengaran.
Rasa takut pun menjalar,
Karena Ayah dan Bunda
Tak segera datang.
Hamba pun terlelap,
Berharap terbangun oleh suara
Ayah dan Bunda mengetuk jendela.
Sayang,
Harap hanyalah harap.
Bahkan setelah sang surya menyapa,
Tak ada tanda-tanda akan sosok keduanya.
Pukul dua belas petang,
Terdengar ketukan jendela rumah.
Hamba senang bukan kepalang,
Karena menyangka bahwa Ayah dan Bunda lah
Yang membuat suara.
Ternyata bukan mereka.
Ternyata hanya Pak RT
Yang sudah tua renta.
Seraya memasang muka muram,
Datang untuk mengantarkan kabar
Bahwa Ayah dan Bunda
Bersama kendaraannya
Telah tak ada.
Dalam sekejap,
Semua senyap.
Hamba
Hampa.
Hamba mau padam,
Layaknya lampu yang telah usang
Lalu lenyap dan terbuang.
Hamba mau tenggelam,
Larut dalam lautan dalam
Menyatu dengan deburan ombak
Yang perlahan tersapu bayu.
Hamba mau musnah.
Tolong,
Lempar saja hamba ke jurang.
Hamba hendak bertemu
Dengan Ayah dan Bunda
Pada ujung lembah yang sama.

Photo Hunt: Street Style Vibe

If you're an avid reader of this blog (or maybe not), you might have read my post about me hunting for photos at Taman Harmoni—or also well-known as Taman Sakura—in Keputih, Surabaya. Well, actually a day before that I came to visit my fellow college mates who were also hunting for photos there.

One of them was Ardina, who's now my real great partner related to everything photography. She's pretty good with camera, and having several gears (like Canon EOS 1100D with various lenses, Fujifilm X-A2 mirrorless camera, and Go Pro Hero 4) makes her incredibly enthusiastic when it comes to taking photos. And she's wonderful to work with!

She has taken photos of me before, mainly in front of the infamous blank white wall at my faculty. That time at Taman Harmoni, she asked me to model for her so she could have some photos with human as the object. And I went for it! Even though at that time, I was completely bare-faced and unprepared to be taken photos of.

Here are some of the shots.




Taken with Canon EOS 1100D with 50mm fixed lens.
  • Snapback: Unbranded
  • T-Shirt: H&M

Hoo mah gawd look at that hideous bare face! Not to mention that I was super sweaty also lmao. Oh well, this turned out much better than I have expected so. I'm happy! Thanks a lot to Ardina too!

OOTD: Coachella Inspired

I always wear skinny jeans, every day. Or leggings, depending on what kind of top I'd wear that day. But it's essentially the same: skin-tight bottoms are the daily go-to choice of mine. I rarely wear skirts, just because I think that it's too much of a hassle—almost every day, I commute with motorcycle (it's not me who's driving though, lmao)—despite my fondness of them.

So you guessed it, I never wear loose-fitting pants.
Well, almost. I can definitely count with my fingers, how many times I actually, deliberately did.

One of the reasons for wearing skin-tight bottoms all the time is that I like to flaunt my legs. I got a pretty nice pair of legs that I could be proud of. They're skinny, in a great shape (because I squat on daily basis), and hecka long-ass (seriously though, my lower body is longer than my upper body). Lots of my girl friends are envious of my legs, and I sure am proud of it. One of the greatest assets among all my body parts, definitely. By wearing skin-tight bottoms, my legs' shape is defined.

And well, the opposite—I've always thought that wearing loose-fitting pants would look bad on me, because they'd just emphasize my super skinny body and making me look even more like a stick figure. You know, like a hobo? I mean, you get my point, right?

Yeah well, last week I had this certain condition which obliged me to wear loose-fitting pants. And I do not have that many pairs of them, only two. One pair is normal, navy blue loose pants with polka dot pattern on them, they could definitely pass as pajama pants. And the other, is this high-waist harem pants with batik fabric I got from Bali.

You see, that day I gotta go to university to attend classes. And boy, wearing the former pair I mentioned wasn't even an option. Hell, they look really pajama-ish. I didn't think that it was the most appropriate attire you'd wear to a formal educational institution.

So I have no other option, I gotta wear the harem pants. Even though I loathe this type of pants wholeheartedly.

I was like, maybe I could pair this with something and make this work. Then I suddenly remember some references I saw back in my high school senior year on Instagram, and I got an idea. It was this time where I was crazy about Bohemian-inspired fashion. Something like Brandy Melville, Free People, and the fellow brands. Basically just Coachella-ish.

Well, I was basically channeling my very self circa 2014.

I immediately grabbed my white knitted long cardigan and sport bra, tried to bring my idea to life. By coincidence (I mean what are the odds?), I also found this pretty flower crown on top of my little sister's wardrobe. I put everything in place, and guess what? It worked—it looked not too bad.





  • Knitted Long Cardigan: Cotton On
  • Sport Bra: Details Clothing Co.
  • Batik High-waist Harem Pants: Unbranded

FYI, I've never been comfortable posing in front of camera. I used to be real awkward, because I wasn't confident of myself. And I used to be the behind-the-scene kind of person. But nowadays, I don't know, I got some improvements. I can now let loose in front of camera, I know my angles, I know my best expression, I kinda know how to pose now. I think this kinda stuff needs practice? Well, still a noob though.

Now let's talk about the nude, natural, no-makeup makeup.


  • Eyebrows: The Body Shop Brow & Liner Kit in #3 - Brown & Black
  • Primer: The Body Shop Instablur Primer
  • BB Cream: The Body Shop Tea Tree BB Cream in #3
  • Powder: Rimmel Stay Matte Powder in #07 - Mohair
  • Blush On: NYX Mosaic Powder Blush in Spice
  • Bronzer: Maybelline Dream Sun Bronzer in Golden Soleil Hale
  • Lip: Purbasari Matte in #81 - Diamond
See how my hair looking so BOMB up there? Jeez, if only it happens every day. If only good-hair-day is every day, life would be so much easier. Anyways, I'd be happy to recommend this hair vitamin from L'Oreal, called Extraordinary Oil. It is just the best product for my hair, it builds up nicely and just won't make my hair greasy. You should definitely try that!

Pulang

Aku memeluknya, erat. Kurasakan hangat tubuhnya yang terakhir kalinya sebelum kehangatan itu tergantikan hanya oleh selembar selimut di tengah dinginnya malam. Kuhirup aroma tubuhnya yang terakhir kalinya sebelum kami terpisah oleh jarak puluhan ribu kilometer. Jemari yang kucengkeram dengan kuat perlahan melepaskan genggamannya. Seraya mengecup dahiku, ia pun berkata,

“Aku berangkat.”

* * *

Sebelumnya aku tidak pernah membenci hujan―aku menyukainya. Aku suka deru air hujan yang mengalah pada gravitasi dan menghantam daratan. Aku suka memperhatikan rintikan air hujan yang menerpa jendela, bagaimana tetesan-tetesan air itu bergabung dengan satu sama lain dan mengalir ke bawah. Aku suka megahnya kilat yang saling beradu dan bersahutan. Aku juga suka suara guntur yang bergemuruh, seakan-akan Dewa Zeus sedang mempertunjukkan simfoni yang begitu indahnya.

Namun tidak dengan kali ini.

Entah kenapa, kali ini suara petir yang kian lama kian keras membuat hatiku tak tenang. Gemuruh yang demikian kerasnya membuat kaca jendela yang kusandari bergetar. Pandanganku kosong, menatap ke luar jendela kamar tidurku yang remang-remang akibat cahaya matahari yang terhalang oleh gelapnya mendung. Aku mengalihkan pandanganku mengelilingi kamar, kuperhatikan dengan teliti dari hal-hal yang mudah terlihat hingga ke detail kecil. Dari nuansa warna putih berkat seluruh furnitur yang berwarna sama, easel yang digunakan untuk meletakkan kanvas di pojok kamar, hingga satu sisi tembok yang dipenuhi oleh foto-foto yang membangkitkan banyak kenangan. Aku pun berbaring di atas kasurku, menyisakan tempat yang cukup besar di sampingku. Biasanya aku akan cepat tertidur dalam keadaan seperti itu―sendirian, hanya ditemani oleh seonggok guling. Tetapi hari ini berbeda, karena hari ini adalah hari yang sudah sejak tiga tahun lalu kunantikan―hari di mana ia akhirnya akan pulang.

Ya, pulang.

Sudah tiga tahun lamanya kekasihku menempuh pendidikan untuk mendapatkan gelar Master di negara Inggris―negara yang telah lama ia idam-idamkan. Ia memang sedari dulu ingin belajar di Negeri Tiga Singa tersebut. Saat mendengar kabar bahwa ia mendapatkan beasiswa Erasmus Mundus untuk melanjutkan pendidikan tinggi di sana, rasa bahagia dan sedih bercampur aduk menjadi satu. Bahagia, karena akhirnya ia berhasil mewujudkan cita-citanya sedari sekolah menengah. Sedih, karena itu artinya kami tidak akan bisa berjumpa selama paling tidak dua tahun. Tetapi aku tidaklah bodoh, tidak mungkin aku mencegahnya untuk berangkat ke Inggris hanya untuk memenuhi tuntutan pribadiku. Aku menekan rasa sedihku sekeras mungkin agar tidak tampak, agar ia tidak merasakan sedikit kekhawatiran pun sebelum meninggalkanku pergi. Setelah tiga tahun yang dipenuhi penantian, kesepian, dan air mata yang tidak sedikit, aku mendengar kabar kelulusannya. Tentu saja aku kegirangan, karena itu artinya kami akan kembali bertemu. Tetapi, belum ada kepastian soal kepulangannya pada saat itu.

Minggu lalu, dengan sangat tiba-tiba ia menelepon untuk memberitakan soal kepulangannya kembali ke Indonesia. Saat aku bertanya soal jam kedatangannya, ia tidak bisa memberi kepastian karena pada penerbangan internasional jarak jauh terkadang terjadi kejadian-kejadian yang tak terduga yang bisa mempengaruhi jam kedatangan. Ia hanya berkata bahwa ia meninggalkan London pada tanggal 22 Desember, agar bisa sampai tepat waktu saat hari libur Natal tiba. Ia juga berkata bahwa ini adalah kali terakhir ia bisa menghubungiku sebelum ia benar-benar sampai, sebab ia akan sibuk dengan segala urusan soal imigrasi dan kepindahannya kembali ke Indonesia. Karena itulah, ia tidak memperbolehkanku menjemputnya di bandara. Tunggulah aku di rumah, katanya.

Deminya, aku mempersiapkan segalanya. Mulai dari membersihkan rumah, memasang kerai yang baru kubeli yang senada dengan kamar tidurku yang serba putih, membuatkan panekuk kesukaannya, hingga menyiapkan air hangat di bak mandi yang siap untuk digunakan guna melepas letih dari perjalanan jauh yang ditempuhnya.

Menit demi menit, jam demi jam. Waktu pun berlalu, tapi tidak kunjung muncul satu pun tanda kepulangan dirinya. Sedari pagi buta aku menanti kedatangannya, karena ia hanya memberitahukan hari keberangkatannya. Hingga pukul 10 malam langkah kaki yang kutunggu pun tak kunjung terdengar, padahal aku sudah mulai mengantuk. Tetapi biarlah rasa lelah ini meluluh-lantakkan tubuhku asal aku bisa menyambut kedatangannya, pikirku. Akan tetapi, rupanya diriku terlalu penat. Seiring waktu berjalan, kantuk mulai menjalar ke seluruh badanku. Mataku perlahan terpejam, kesadaranku semakin lama semakin hilang.

Hingga akhirnya terdengarlah suara pintu rumah terbuka, suara yang sudah terlalu lama kudambakan―suara yang kutunggu-tunggu bahkan sejak terakhir aku memandangi punggungnya dengan seksama, saat ia bergegas menghampiri taksi yang akan membawanya selangkah lebih dekat menuju impiannya. Seketika keletihan yang menghinggapi diriku pun hilang. Langkahku menderap, hatiku berdegup kencang, tak sabar ingin melihat wajahnya. Jiwa ini ingin segera melepas kerinduan yang mendalam, raga ini ingin segera merengkuh tubuhnya erat-erat. Mataku terpaku ketika melihat sosoknya yang basah kuyup karena hujan.

Dengan seketika kujulurkan tanganku dan kubenamkan wajahku di pundaknya, sebelum ia bahkan bisa menutup pintu rumah. Sebelum ia bahkan bisa menjejakkan langkah keduanya ke dalam rumah. Sebelum ia bahkan bisa melepas jas yang dikenakannya. Sebelum ia bahkan bisa berkata,

“Aku pulang.”

* * *

A drawing by him.

Color Scheme: Wine Red

I've always been infatuated by the hues that fall into the darker spectrum of colors. One of them including wine red. I can't help but be smitten by its both calming-yet-stormy aura it gives off. Whenever I'm in this particular color, I always feel like I'm eliciting some kind of mysterious, untouchable vibe.

I love it.

I've been wearing wine red as a color that describes my mood that day, whether I wear it on my body or on my face. Most of the time, I wear it whenever I want to avoid socializing with people, or to piss people off in general. Today is one of those days. I even went full-throttle and decided to wear it both on my body and my face.

Photo spot: Yello Hotel Jemursari, Surabaya

  • Crop Long-sleeved Turtleneck: H&M
  • Flannel/Checkered Shirt: Polo Ralph Lauren
  • Ripped Boyfriend Jeans: Pull & Bear
  • Ankle Boots: River Island
  • Sling Bag: H&M

The top I'm wearing above happens to be the very first piece of wine red clothing I own. It all started when I went for a short trip to the capital city of Indonesia, Jakarta. As eager as I was, I rushed to H&M store at Grand Indonesia Mall the moment I stepped my foot on the city. Browsing through the store in desperate need of new tops, I found this Cropped Turtleneck with gorgeous color. I was sold, immediately.

Now let's talk about the makeup.

Pardon me for the ridiculous slash awkward pose.

  • Eyebrows: The Body Shop Brow & Liner Kit in #3 - Brown & Black
  • Eyeliner: Rimmel ScandalEyes Waterproof Gel Eyeliner in Jet Black
  • Primer: The Body Shop Instablur Primer
  • BB Cream: The Body Shop Tea Tree BB Cream in #3
  • Powder: Rimmel Stay Matte Powder in #07 - Mohair
  • Bronzer: Maybelline Dream Sun Bronzer in Golden Soleil Hale
  • Lip: NYX Soft Matte Lip Cream in Copenhagen

See how my lips looking so bomb in the pictures above? I. Love. It. But it's a long, tough way I've gone through. To be able to achieve the highest degree of perfection true wine red color, I applied three layers of it. Be sure to only reapply (to darken the color) if the layer of the lip cream you just applied be completely mattified or dried. And voila, instant vampire look.

And that's it. My tip for utilizing the beauty of wine red is to be chill with it. Best not to be too overkill with this color; because I've seen someone who did, and oh boy, did it look terrible.

If you have any suggestions on what color scheme should I do next, I'm always ready to receive some! Be sure to contact me or just leave a comment below *virtual wink*

Photo Hunt: Taman Harmoni (Taman Sakura) Keputih, Surabaya

It's been so long since the last time I properly played with a camera and do what you call the proper photography. It was around mid of 2013, I guess? So basically in the middle of my sophomore year in high school.

I could still remember how I was so infatuated towards photography because my older brother taught me about it, utilizing Canon EOS 550D (which is my first camera!). I learned the very basic of photography, which basically consists of ISO, aperture, and shutter speed. I quickly got the hang of it and started trying things out myself from white balance, metering, lighting, basically everything. I was ultra productive on my (now in a hiatus state) deviant-Art page, but the hustle-bustle of the senior year and final exam made me quickly (temporarily) drop photography altogether as a hobby.

A year of being unproductive made me forget just how fun it was to play around with a camera. But this 4th semester in university, I was lucky to be able to take Photography course. Due to its assignments, I get to take photos again just like the good old days.

For the midterm exam, the lecturer wanted us to hunt for photos at Taman Harmoni (some call it Taman Sakura) in Keputih, Surabaya, Indonesia. We ought to both take great photo and capture the big idea, which is "finding beauty in the ordinary", using the basic of photography and techniques that the lecturer has taught us.

Here are some shots I was able to take. The timing was at golden hour, which was around 4 to 5 P.M.














Taken with Canon EOS 550D with Tamron 80-210mm lens.

If you have any feedback, please let me know!

Karma is Real

You know those time when I was all about older guys? I mean, the whole time, really.

I have always had an infatuation towards guys who are older than me by three years or more — just because I perceived them to be more mature (duh) and more composed. And most importantly: they could guide me to go through life by their abundance of life experience (because honestly, I love to listen more than talk). Because of that, I have had been straight up rejecting guys my age (moreover guys who are younger than me) that approached me.

But it was until sometime around mid to end of last year (2015).

Review Buku: 'Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu)' oleh Djenar Maesa Ayu


Judul Buku:
Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu)


Penulis:
Djenar Maesa Ayu

Penerbit:
PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit:
Oktober 2004

Apa yang kira-kira akan terjadi bila masyarakat yang konservatif, tertutup, dan terbiasa menganggap segala hal yang berhubungan dengan seks sebagai sesuatu yang tabu, tiba-tiba dibombardir dengan cerpen yang justru malah membahas seksualitas dengan bahasa luar biasa vulgar? Menuai banyak kontroversi, tentu saja. Menyulut banyak perdebatan, apalagi. Tetapi kenyataannya tak hanya dimaki, cerpen-cerpen buatan Djenar Maesa Ayu pun banyak dicintai.

Pada tahun 2004, perempuan kelahiran Jakarta tersebut mengompilasikan beberapa cerita pendek buatannya dalam sebuah buku yang berjudul Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu). Hampir semuanya pernah diterbitkan di beberapa surat kabar maupun majalah terkenal di Indonesia, seperti Harian Kompas, Koran Tempo, Harian Republika, dan masih banyak lagi.

Buku ini merupakan kumpulan sebelas cerita pendek yang terdiri dari Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu), Mandi Sabun Mandi, Moral, Menyusu Ayah, Cermin, Saya adalah Seorang Alkoholik!, Staccato, Saya di Mata Sebagian Orang, Ting!, Penthouse 2601, dan Payudara Nai Nai. Seperti biasanya, Djenar dengan gamblang memaparkan realita kehidupan perempuan melalui tokoh utama tiap-tiap cerpen (yang memang hampir semua berjenis kelamin perempuan) yang acap kali dianggap “tak pantas” atau “tidak baik-baik”, dan berhasil mengeksplorasi sisi seksualitas dari mereka. Gaya penulisan perempuan kelahiran tahun 1973 ini amat terlihat dalam tiap-tiap cerpen buatannya – tetap menggunakan bahasa yang vulgar, terang-terangan, blak-blakan, apa adanya, bahkan bagi sebagian orang bisa dianggap “kasar”. Tapi itulah Djenar.

Di tengah lenggak-lenggok karya sastra yang mengagungkan keromantisan hidup indah nan utopis semerbak dengan kisah cinta penuh fantasi, justru sensasi saat membaca tulisan-tulisan Djenar yang menyentak dan “nyata” seperti inilah yang memikat hati pembacanya, bahkan membuat mereka rindu. Bagaimana tidak, rata-rata cerita pendek dalam buku Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) bertema hubungan seksual, perselingkuhan, pengkhianatan, pelacuran, pelecehan, dan pemerkosaan. Jangankan begitu, tema besar dari buku ini secara keseluruhan adalah seks. Suatu hal yang masih dianggap sangat tabu oleh masyarakat Indonesia.

Semakin jauh mata menyapu huruf demi huruf, merangkai kalimat dalam pikiran dari apa yang terlihat, semakin pembaca dibuatnya terpana atas aspek ke-“nyata”-an dari cerita pendek tersebut. Ada sedikit perasaan yang terbesit bahwa cerita ini bisa saja merupakan kejadian yang dialami oleh wanita yang seratus persen nyata, dan perjuangan yang dihadapi oleh mereka bukan main beratnya. Inilah kekuatan tulisan Djenar. Memaparkan yang mungkin terjadi dan menggugah emosi para pembacanya untuk merasa simpatik kepada para pelacur, para kekasih gelap, para wanita binal yang berkali-kali dijadikan subjek cerita oleh Djenar. Seakan-akan kita bisa mengintip secara langsung kehidupan mereka yang terkesan “tak terjangkau” dan sehari-harinya terpinggirkan berkat prasangka kita. Djenar seperti mengajak kita untuk membuka mata kita, bahwa ada cerita memilukan di balik semua itu.

Secara keseluruhan, Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) merupakan buku kumpulan cerita pendek yang bisa mempertahankan dengan baik koherensi tema antar cerpen. Tetapi mengingat betapa gamblangnya bahasa dan bahasan di buku ini, termasuk membahas tentang pemerkosaan, akan lebih baik bila diberikan peringatan trigger warning di sampul buku sebagai sarana preventif untuk pembaca yang memiliki trauma pada hal-hal tertentu yang bisa tersulut akibat membaca buku ini.

Terlepas dari itu, Djenar Maesa Ayu berhasil menciptakan rasa penasaran dan tak sabar bagi pembaca untuk segera menyelesaikan satu cerpen agar bisa membaca cerpen selanjutnya. Berpindah dari satu cerpen ke cerpen lain merupakan pengalaman yang menyenangkan. Belum lagi atas keberaniannya mengangkat suatu topik yang mungkin akan membuat sebagian besar masyarakat Indonesia mengernyitkan dahi, perempuan berusia 43 tahun ini patut diacungi jempol atas tulisannya yang bisa menciptakan dualitas opini dari para pembacanya – dimaki dan dicintai.

Review & Analisis Film: 'Lovely Man' Menggunakan Teori Komunikasi


‘Lovely Man’. Film karya Teddy Soeriaatmadja ini patut diacungi jempol karena telah mengangkat tema yang masih dianggap tabu oleh masyarakat Indonesia: TransgenderDua tokoh utama dalam film ini – Syaiful atau Ipuy, seorang waria, dan Cahaya, anak dari Syaiful – mampu membuat penonton terhanyut dalam cerita yang penuh intrik berkat penyajian kontradiksi di antara mereka berdua.

Para waria dalam film ini digambarkan berdialog dengan bahasa yang diasosiasikan sebagai ‘bahasa waria’. Beberapa contoh adalah mengganti ‘aku’ dengan ‘eike’ dan ‘pergi’ dengan ‘capcus’. Dari perspektif Teori Akomodasi di buku Littlejohn dan Foss (2009, p. 1), hal ini dilakukan para waria sebagai sarana konvergensi untuk mengikatkan diri dengan komunitas waria sekaligus divergensi untuk membedakan mereka dengan komunitas luar (selain waria). Konsekuensinya, mereka dianggap oleh masyarakat sebagai “orang luar” akibat penggunaan bahasa tersebut.

Jika kita lihat dari perspektif Social Identity Theory, teori itu menyatakan bahwa sebagian identitas sosial individu terbentuk dari organisasi atau perkumpulan tempat mereka berafiliasi, sehingga individu merasa termotivasi untuk berafiliasi dan berasimilasi dengan perkumpulan tersebut bila afiliasi tersebut dianggap menguntungkan bagi identitas personal individu (Littlejohn dan Foss 2009, p. 1). Teori tersebut menjelaskan mengapa Syaiful atau Ipuy yang merupakan bagian dari komunitas waria penjaja jasa seks ikut-ikutan berkomunikasi dengan ‘bahasa waria’, menggunakan nada bicara yang genit, dan gestur tubuh yang gemulai.


Awalnya, dalam film ini Cahaya sedang mencari keberadaan ayahnya yang meninggalkannya dari umur 4 tahun. Terpisah selama 15 tahun, tentu saja Cahaya tidak memiliki bayangan akan penampilan ayahnya. Bagaimana sifatnya, apa pekerjaannya, bahkan di mana tempat ia tinggal – tidak satu pun diketahui oleh Cahaya. Akhirnya Cahaya melakukan berbagai usaha untuk mengurangi ketidakpastian tersebut – menanyai kepada penduduk sekitar tentang keberadaan ayahnya dan tempat tinggalnya, dll. Ia melakukan apa yang dinamakan dengan Uncertainty Management seperti yang tertuang dalam buku Littlejohn dan Foss (2009, p. 37).

Saat Cahaya pertama kali melihat ayahnya yang ternyata adalah seorang waria, ia terkejut. Ia kaget, karena ayahnya tak sesuai dengan sosok ‘ayah’ yang seharusnya “sesuai” dengan harapannya: maskulin, rambutnya pendek, berpakaian atasan dan bawahan celana, nada suaranya rendah, bekerja sebagai pegawai kantoran maupun bekerja di warung atau toko kelontong – gambaran akan seorang laki-laki yang normal menurut standar masyarakat. Ternyata jauh dari itu, Syaiful yang ia lihat berambut panjang, memakai make up, bergaya feminin, mengenakan gaun pendek, memakai sepatu hak tinggi, bernada suara tinggi, dan bekerja sebagai penyedia jasa seks. Inilah yang disebut dengan Expectancy Violations Theory, ketika terdapat perilaku komunikasi yang tak terduga dan tidak sesuai ekspektasi kita (Littlejohn dan Foss 2009, p. 367).



Sering kali ketika melihat mainstream media yang ada di Indonesia, waria digambarkan sebagai sosok yang tidak pantas, hina, menjijikkan, sampah masyarakat, kaum terkucilkan, dan sebagainya. Dari perspektif Cultivation Theory (Littlejohn dan Foss 2005, p. 288), media (dalam hal ini televisi) ikut berkontribusi atas pola pikir masyarakat yang menganggap bahwa waria adalah sosok yang hina dengan cara memberi efek yang substil secara sedikit demi sedikit. Mulai dari representasi waria di acara televisi yang men-stereotipe mereka hingga penggambaran yang semakin meresonansi bahwa waria merupakan sosok yang melenceng dan tidak memiliki hak yang sama dengan masyarakat.

Dari perspektif Poststructuralism yang ada di buku Littlejohn dan Foss (2005, p. 329; 2009, p. 240), mereka yang mainstream ini melakukan dominasi atas kaum marjinal, yakni waria, dengan sarana bahasa. Yang paling sederhana adalah penggunaan kata ‘banci’. Selama ini kita menganggap bahwa kata ‘banci’ merupakan sinonim dari ‘waria’, sehingga penggunaannya dalam menyebut waria dianggap sah-sah saja. Namun dalam media (dan akhirnya diadopsi oleh masyarakat dalam kegiatan berbahasa sehari-hari), kata ‘banci’ sering dijadikan kata yang berkonotasi negatif sehingga diasosiasikan sebagai kata ejekan dan olokan. Contohnya adalah mengejek seorang laki-laki dengan, “ah, kamu banci!” saat ia tidak berani atau takut melakukan sesuatu. Hal ini semakin mengokohkan eksistensi waria yang dianggap tercela di kalangan masyarakat, baik secara sadar maupun tidak.


Ketika kita melihat dari perspektif Teori Spiral of Silence (Littlejohn dan Foss 2005, p. 290), media berhasil menciptakan opini publik yang sifatnya mayoritas – dalam hal ini, opini yang menganggap bahwa waria adalah orang-orang yang menyimpang dan tabu, sehingga tidak patut untuk dibicarakan. Ini bisa menjadi salah satu alasan yang menyebabkan mengapa jarang ada buah karya sineas Indonesia yang mengangkat Transgender sebagai topik utamanya.

Tidak hanya itu, Ideological State Apparatus (ISA) pun turut mengambil andil dalam melanggengkan anggapan-anggapan negatif tentang waria bila kita melihat dari perspektif Neo-Marxism yang dikemukakan oleh Louis Althusser di buku McQuail (2000, p. 77). Lebih spesifik lagi, ISA yang dimaksud adalah Agama. Dari ajaran agama mayoritas di Indonesia, merupakan sesuatu yang dipandang berdosa besar apabila seorang lelaki menyalahi “kodrat” dengan berpenampilan atau berperilaku menyerupai perempuan. Masyarakat Indonesia yang terkenal religius pun akan berbondong-bondong mengiyakan doktrin tersebut, menganggap bahwa keberadaan waria adalah sesuatu yang patut untuk dibasmi. Sehingga, hal ini akan merembet ke dua ISA yang lain – yaitu pendidikan dan media.

Lain halnya dengan film ‘Lovely Man’. Dengan adanya film ini, Teddy Soeriaatmadja berhasil memberikan gambaran atas kehidupan Transgender yang banyak dicela oleh masyarakat dengan menyuguhkan sisi yang berbeda dari kebanyakan. Bukan memberikan penilaian normatif, namun justru merepresentasikan penilaian atas keberadaan Transgender dari masyarakat sendiri. Menampilkan kontradiksi antara seorang perempuan berjilbab yang dianggap “suci” dan seorang waria yang dianggap “hina”, lalu membalutnya dengan adegan-adegan di mana masyarakat memberi masing-masing pihak perlakuan yang berbeda. Ending yang meluluh-lantakkan emosi penonton membuat ‘Lovely Man’ meninggalkan kesan yang mendalam di hati mereka. Film ini bisa menjadi sarana refleksi bagi masyarakat, tentang bagaimana mereka sudah memperlakukan orang-orang yang “berbeda” dari mereka dan apakah mereka mampu dengan sepenuh hati menerima keberadaan orang-orang yang “berbeda” tersebut.



-

DAFTAR PUSTAKA & REFERENSI

Baran, Stanley J. dan Dennis K. Davis. 2012. Mass Communication Theory: Foundations, Ferment, and Future (ed. 6). London: Wadsworth Cengage Learning.
Fiske, John. 1996. Introduction to Communication Studies (ed. 2). London: Routledge.
Griffin, Em. 2009. A First Look at Communication Theory (ed. 7). New York: McGraw-Hill.
Littlejohn, Stephen W. dan Karen A. Foss. 1999. Theories of Human Communication (ed. 6). Singapore: Wadsworth Publishing.
Littlejohn, Stephen W. dan Karen A. Foss. 2005. Theories of Human Communication (ed. 8). Singapore: Wadsworth Publishing.
Littlejohn, Stephen W. dan Karen A. Foss. 2009. Encyclopedia of Communication Theory. California: SAGE Publications.
McQuail, Dennis. 2000. Mass Communication Theory (ed. 4). London: SAGE Publications.
O’Saughnessy, Michael dan Jane Stadler. 2006. Media and Society: An Introduction (ed. 3). Australia: Oxford University Press.
Severin, Werner dan James W. Tankard Jr. 1997. Communication Theories: Origins, Methods, and Uses in the Mass Media (ed. 4). New York: Longman Publishers.