Photo Hunt: Taman Harmoni (Taman Sakura) Keputih, Surabaya

It's been so long since the last time I properly played with a camera and do what you call the proper photography. It was around mid of 2013, I guess? So basically in the middle of my sophomore year in high school.

I could still remember how I was so infatuated towards photography because my older brother taught me about it, utilizing Canon EOS 550D (which is my first camera!). I learned the very basic of photography, which basically consists of ISO, aperture, and shutter speed. I quickly got the hang of it and started trying things out myself from white balance, metering, lighting, basically everything. I was ultra productive on my (now in a hiatus state) deviant-Art page, but the hustle-bustle of the senior year and final exam made me quickly (temporarily) drop photography altogether as a hobby.

A year of being unproductive made me forget just how fun it was to play around with a camera. But this 4th semester in university, I was lucky to be able to take Photography course. Due to its assignments, I get to take photos again just like the good old days.

For the midterm exam, the lecturer wanted us to hunt for photos at Taman Harmoni (some call it Taman Sakura) in Keputih, Surabaya, Indonesia. We ought to both take great photo and capture the big idea, which is "finding beauty in the ordinary", using the basic of photography and techniques that the lecturer has taught us.

Here are some shots I was able to take. The timing was at golden hour, which was around 4 to 5 P.M.














Taken with Canon EOS 550D with Tamron 80-210mm lens.

If you have any feedback, please let me know!

Karma is Real

You know those time when I was all about older guys? I mean, the whole time, really.

I have always had an infatuation towards guys who are older than me by three years or more — just because I perceived them to be more mature (duh) and more composed. And most importantly: they could guide me to go through life by their abundance of life experience (because honestly, I love to listen more than talk). Because of that, I have had been straight up rejecting guys my age (moreover guys who are younger than me) that approached me.

But it was until sometime around mid to end of last year (2015).

Review Buku: 'Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu)' oleh Djenar Maesa Ayu


Judul Buku:
Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu)


Penulis:
Djenar Maesa Ayu

Penerbit:
PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit:
Oktober 2004

Apa yang kira-kira akan terjadi bila masyarakat yang konservatif, tertutup, dan terbiasa menganggap segala hal yang berhubungan dengan seks sebagai sesuatu yang tabu, tiba-tiba dibombardir dengan cerpen yang justru malah membahas seksualitas dengan bahasa luar biasa vulgar? Menuai banyak kontroversi, tentu saja. Menyulut banyak perdebatan, apalagi. Tetapi kenyataannya tak hanya dimaki, cerpen-cerpen buatan Djenar Maesa Ayu pun banyak dicintai.

Pada tahun 2004, perempuan kelahiran Jakarta tersebut mengompilasikan beberapa cerita pendek buatannya dalam sebuah buku yang berjudul Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu). Hampir semuanya pernah diterbitkan di beberapa surat kabar maupun majalah terkenal di Indonesia, seperti Harian Kompas, Koran Tempo, Harian Republika, dan masih banyak lagi.

Buku ini merupakan kumpulan sebelas cerita pendek yang terdiri dari Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu), Mandi Sabun Mandi, Moral, Menyusu Ayah, Cermin, Saya adalah Seorang Alkoholik!, Staccato, Saya di Mata Sebagian Orang, Ting!, Penthouse 2601, dan Payudara Nai Nai. Seperti biasanya, Djenar dengan gamblang memaparkan realita kehidupan perempuan melalui tokoh utama tiap-tiap cerpen (yang memang hampir semua berjenis kelamin perempuan) yang acap kali dianggap “tak pantas” atau “tidak baik-baik”, dan berhasil mengeksplorasi sisi seksualitas dari mereka. Gaya penulisan perempuan kelahiran tahun 1973 ini amat terlihat dalam tiap-tiap cerpen buatannya – tetap menggunakan bahasa yang vulgar, terang-terangan, blak-blakan, apa adanya, bahkan bagi sebagian orang bisa dianggap “kasar”. Tapi itulah Djenar.

Di tengah lenggak-lenggok karya sastra yang mengagungkan keromantisan hidup indah nan utopis semerbak dengan kisah cinta penuh fantasi, justru sensasi saat membaca tulisan-tulisan Djenar yang menyentak dan “nyata” seperti inilah yang memikat hati pembacanya, bahkan membuat mereka rindu. Bagaimana tidak, rata-rata cerita pendek dalam buku Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) bertema hubungan seksual, perselingkuhan, pengkhianatan, pelacuran, pelecehan, dan pemerkosaan. Jangankan begitu, tema besar dari buku ini secara keseluruhan adalah seks. Suatu hal yang masih dianggap sangat tabu oleh masyarakat Indonesia.

Semakin jauh mata menyapu huruf demi huruf, merangkai kalimat dalam pikiran dari apa yang terlihat, semakin pembaca dibuatnya terpana atas aspek ke-“nyata”-an dari cerita pendek tersebut. Ada sedikit perasaan yang terbesit bahwa cerita ini bisa saja merupakan kejadian yang dialami oleh wanita yang seratus persen nyata, dan perjuangan yang dihadapi oleh mereka bukan main beratnya. Inilah kekuatan tulisan Djenar. Memaparkan yang mungkin terjadi dan menggugah emosi para pembacanya untuk merasa simpatik kepada para pelacur, para kekasih gelap, para wanita binal yang berkali-kali dijadikan subjek cerita oleh Djenar. Seakan-akan kita bisa mengintip secara langsung kehidupan mereka yang terkesan “tak terjangkau” dan sehari-harinya terpinggirkan berkat prasangka kita. Djenar seperti mengajak kita untuk membuka mata kita, bahwa ada cerita memilukan di balik semua itu.

Secara keseluruhan, Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) merupakan buku kumpulan cerita pendek yang bisa mempertahankan dengan baik koherensi tema antar cerpen. Tetapi mengingat betapa gamblangnya bahasa dan bahasan di buku ini, termasuk membahas tentang pemerkosaan, akan lebih baik bila diberikan peringatan trigger warning di sampul buku sebagai sarana preventif untuk pembaca yang memiliki trauma pada hal-hal tertentu yang bisa tersulut akibat membaca buku ini.

Terlepas dari itu, Djenar Maesa Ayu berhasil menciptakan rasa penasaran dan tak sabar bagi pembaca untuk segera menyelesaikan satu cerpen agar bisa membaca cerpen selanjutnya. Berpindah dari satu cerpen ke cerpen lain merupakan pengalaman yang menyenangkan. Belum lagi atas keberaniannya mengangkat suatu topik yang mungkin akan membuat sebagian besar masyarakat Indonesia mengernyitkan dahi, perempuan berusia 43 tahun ini patut diacungi jempol atas tulisannya yang bisa menciptakan dualitas opini dari para pembacanya – dimaki dan dicintai.

Review & Analisis Film: 'Lovely Man' Menggunakan Teori Komunikasi


‘Lovely Man’. Film karya Teddy Soeriaatmadja ini patut diacungi jempol karena telah mengangkat tema yang masih dianggap tabu oleh masyarakat Indonesia: TransgenderDua tokoh utama dalam film ini – Syaiful atau Ipuy, seorang waria, dan Cahaya, anak dari Syaiful – mampu membuat penonton terhanyut dalam cerita yang penuh intrik berkat penyajian kontradiksi di antara mereka berdua.

Para waria dalam film ini digambarkan berdialog dengan bahasa yang diasosiasikan sebagai ‘bahasa waria’. Beberapa contoh adalah mengganti ‘aku’ dengan ‘eike’ dan ‘pergi’ dengan ‘capcus’. Dari perspektif Teori Akomodasi di buku Littlejohn dan Foss (2009, p. 1), hal ini dilakukan para waria sebagai sarana konvergensi untuk mengikatkan diri dengan komunitas waria sekaligus divergensi untuk membedakan mereka dengan komunitas luar (selain waria). Konsekuensinya, mereka dianggap oleh masyarakat sebagai “orang luar” akibat penggunaan bahasa tersebut.

Jika kita lihat dari perspektif Social Identity Theory, teori itu menyatakan bahwa sebagian identitas sosial individu terbentuk dari organisasi atau perkumpulan tempat mereka berafiliasi, sehingga individu merasa termotivasi untuk berafiliasi dan berasimilasi dengan perkumpulan tersebut bila afiliasi tersebut dianggap menguntungkan bagi identitas personal individu (Littlejohn dan Foss 2009, p. 1). Teori tersebut menjelaskan mengapa Syaiful atau Ipuy yang merupakan bagian dari komunitas waria penjaja jasa seks ikut-ikutan berkomunikasi dengan ‘bahasa waria’, menggunakan nada bicara yang genit, dan gestur tubuh yang gemulai.


Awalnya, dalam film ini Cahaya sedang mencari keberadaan ayahnya yang meninggalkannya dari umur 4 tahun. Terpisah selama 15 tahun, tentu saja Cahaya tidak memiliki bayangan akan penampilan ayahnya. Bagaimana sifatnya, apa pekerjaannya, bahkan di mana tempat ia tinggal – tidak satu pun diketahui oleh Cahaya. Akhirnya Cahaya melakukan berbagai usaha untuk mengurangi ketidakpastian tersebut – menanyai kepada penduduk sekitar tentang keberadaan ayahnya dan tempat tinggalnya, dll. Ia melakukan apa yang dinamakan dengan Uncertainty Management seperti yang tertuang dalam buku Littlejohn dan Foss (2009, p. 37).

Saat Cahaya pertama kali melihat ayahnya yang ternyata adalah seorang waria, ia terkejut. Ia kaget, karena ayahnya tak sesuai dengan sosok ‘ayah’ yang seharusnya “sesuai” dengan harapannya: maskulin, rambutnya pendek, berpakaian atasan dan bawahan celana, nada suaranya rendah, bekerja sebagai pegawai kantoran maupun bekerja di warung atau toko kelontong – gambaran akan seorang laki-laki yang normal menurut standar masyarakat. Ternyata jauh dari itu, Syaiful yang ia lihat berambut panjang, memakai make up, bergaya feminin, mengenakan gaun pendek, memakai sepatu hak tinggi, bernada suara tinggi, dan bekerja sebagai penyedia jasa seks. Inilah yang disebut dengan Expectancy Violations Theory, ketika terdapat perilaku komunikasi yang tak terduga dan tidak sesuai ekspektasi kita (Littlejohn dan Foss 2009, p. 367).



Sering kali ketika melihat mainstream media yang ada di Indonesia, waria digambarkan sebagai sosok yang tidak pantas, hina, menjijikkan, sampah masyarakat, kaum terkucilkan, dan sebagainya. Dari perspektif Cultivation Theory (Littlejohn dan Foss 2005, p. 288), media (dalam hal ini televisi) ikut berkontribusi atas pola pikir masyarakat yang menganggap bahwa waria adalah sosok yang hina dengan cara memberi efek yang substil secara sedikit demi sedikit. Mulai dari representasi waria di acara televisi yang men-stereotipe mereka hingga penggambaran yang semakin meresonansi bahwa waria merupakan sosok yang melenceng dan tidak memiliki hak yang sama dengan masyarakat.

Dari perspektif Poststructuralism yang ada di buku Littlejohn dan Foss (2005, p. 329; 2009, p. 240), mereka yang mainstream ini melakukan dominasi atas kaum marjinal, yakni waria, dengan sarana bahasa. Yang paling sederhana adalah penggunaan kata ‘banci’. Selama ini kita menganggap bahwa kata ‘banci’ merupakan sinonim dari ‘waria’, sehingga penggunaannya dalam menyebut waria dianggap sah-sah saja. Namun dalam media (dan akhirnya diadopsi oleh masyarakat dalam kegiatan berbahasa sehari-hari), kata ‘banci’ sering dijadikan kata yang berkonotasi negatif sehingga diasosiasikan sebagai kata ejekan dan olokan. Contohnya adalah mengejek seorang laki-laki dengan, “ah, kamu banci!” saat ia tidak berani atau takut melakukan sesuatu. Hal ini semakin mengokohkan eksistensi waria yang dianggap tercela di kalangan masyarakat, baik secara sadar maupun tidak.


Ketika kita melihat dari perspektif Teori Spiral of Silence (Littlejohn dan Foss 2005, p. 290), media berhasil menciptakan opini publik yang sifatnya mayoritas – dalam hal ini, opini yang menganggap bahwa waria adalah orang-orang yang menyimpang dan tabu, sehingga tidak patut untuk dibicarakan. Ini bisa menjadi salah satu alasan yang menyebabkan mengapa jarang ada buah karya sineas Indonesia yang mengangkat Transgender sebagai topik utamanya.

Tidak hanya itu, Ideological State Apparatus (ISA) pun turut mengambil andil dalam melanggengkan anggapan-anggapan negatif tentang waria bila kita melihat dari perspektif Neo-Marxism yang dikemukakan oleh Louis Althusser di buku McQuail (2000, p. 77). Lebih spesifik lagi, ISA yang dimaksud adalah Agama. Dari ajaran agama mayoritas di Indonesia, merupakan sesuatu yang dipandang berdosa besar apabila seorang lelaki menyalahi “kodrat” dengan berpenampilan atau berperilaku menyerupai perempuan. Masyarakat Indonesia yang terkenal religius pun akan berbondong-bondong mengiyakan doktrin tersebut, menganggap bahwa keberadaan waria adalah sesuatu yang patut untuk dibasmi. Sehingga, hal ini akan merembet ke dua ISA yang lain – yaitu pendidikan dan media.

Lain halnya dengan film ‘Lovely Man’. Dengan adanya film ini, Teddy Soeriaatmadja berhasil memberikan gambaran atas kehidupan Transgender yang banyak dicela oleh masyarakat dengan menyuguhkan sisi yang berbeda dari kebanyakan. Bukan memberikan penilaian normatif, namun justru merepresentasikan penilaian atas keberadaan Transgender dari masyarakat sendiri. Menampilkan kontradiksi antara seorang perempuan berjilbab yang dianggap “suci” dan seorang waria yang dianggap “hina”, lalu membalutnya dengan adegan-adegan di mana masyarakat memberi masing-masing pihak perlakuan yang berbeda. Ending yang meluluh-lantakkan emosi penonton membuat ‘Lovely Man’ meninggalkan kesan yang mendalam di hati mereka. Film ini bisa menjadi sarana refleksi bagi masyarakat, tentang bagaimana mereka sudah memperlakukan orang-orang yang “berbeda” dari mereka dan apakah mereka mampu dengan sepenuh hati menerima keberadaan orang-orang yang “berbeda” tersebut.



-

DAFTAR PUSTAKA & REFERENSI

Baran, Stanley J. dan Dennis K. Davis. 2012. Mass Communication Theory: Foundations, Ferment, and Future (ed. 6). London: Wadsworth Cengage Learning.
Fiske, John. 1996. Introduction to Communication Studies (ed. 2). London: Routledge.
Griffin, Em. 2009. A First Look at Communication Theory (ed. 7). New York: McGraw-Hill.
Littlejohn, Stephen W. dan Karen A. Foss. 1999. Theories of Human Communication (ed. 6). Singapore: Wadsworth Publishing.
Littlejohn, Stephen W. dan Karen A. Foss. 2005. Theories of Human Communication (ed. 8). Singapore: Wadsworth Publishing.
Littlejohn, Stephen W. dan Karen A. Foss. 2009. Encyclopedia of Communication Theory. California: SAGE Publications.
McQuail, Dennis. 2000. Mass Communication Theory (ed. 4). London: SAGE Publications.
O’Saughnessy, Michael dan Jane Stadler. 2006. Media and Society: An Introduction (ed. 3). Australia: Oxford University Press.
Severin, Werner dan James W. Tankard Jr. 1997. Communication Theories: Origins, Methods, and Uses in the Mass Media (ed. 4). New York: Longman Publishers.