Pulang

Aku memeluknya, erat. Kurasakan hangat tubuhnya yang terakhir kalinya sebelum kehangatan itu tergantikan hanya oleh selembar selimut di tengah dinginnya malam. Kuhirup aroma tubuhnya yang terakhir kalinya sebelum kami terpisah oleh jarak puluhan ribu kilometer. Jemari yang kucengkeram dengan kuat perlahan melepaskan genggamannya. Seraya mengecup dahiku, ia pun berkata,

“Aku berangkat.”

* * *

Sebelumnya aku tidak pernah membenci hujan―aku menyukainya. Aku suka deru air hujan yang mengalah pada gravitasi dan menghantam daratan. Aku suka memperhatikan rintikan air hujan yang menerpa jendela, bagaimana tetesan-tetesan air itu bergabung dengan satu sama lain dan mengalir ke bawah. Aku suka megahnya kilat yang saling beradu dan bersahutan. Aku juga suka suara guntur yang bergemuruh, seakan-akan Dewa Zeus sedang mempertunjukkan simfoni yang begitu indahnya.

Namun tidak dengan kali ini.

Entah kenapa, kali ini suara petir yang kian lama kian keras membuat hatiku tak tenang. Gemuruh yang demikian kerasnya membuat kaca jendela yang kusandari bergetar. Pandanganku kosong, menatap ke luar jendela kamar tidurku yang remang-remang akibat cahaya matahari yang terhalang oleh gelapnya mendung. Aku mengalihkan pandanganku mengelilingi kamar, kuperhatikan dengan teliti dari hal-hal yang mudah terlihat hingga ke detail kecil. Dari nuansa warna putih berkat seluruh furnitur yang berwarna sama, easel yang digunakan untuk meletakkan kanvas di pojok kamar, hingga satu sisi tembok yang dipenuhi oleh foto-foto yang membangkitkan banyak kenangan. Aku pun berbaring di atas kasurku, menyisakan tempat yang cukup besar di sampingku. Biasanya aku akan cepat tertidur dalam keadaan seperti itu―sendirian, hanya ditemani oleh seonggok guling. Tetapi hari ini berbeda, karena hari ini adalah hari yang sudah sejak tiga tahun lalu kunantikan―hari di mana ia akhirnya akan pulang.

Ya, pulang.

Sudah tiga tahun lamanya kekasihku menempuh pendidikan untuk mendapatkan gelar Master di negara Inggris―negara yang telah lama ia idam-idamkan. Ia memang sedari dulu ingin belajar di Negeri Tiga Singa tersebut. Saat mendengar kabar bahwa ia mendapatkan beasiswa Erasmus Mundus untuk melanjutkan pendidikan tinggi di sana, rasa bahagia dan sedih bercampur aduk menjadi satu. Bahagia, karena akhirnya ia berhasil mewujudkan cita-citanya sedari sekolah menengah. Sedih, karena itu artinya kami tidak akan bisa berjumpa selama paling tidak dua tahun. Tetapi aku tidaklah bodoh, tidak mungkin aku mencegahnya untuk berangkat ke Inggris hanya untuk memenuhi tuntutan pribadiku. Aku menekan rasa sedihku sekeras mungkin agar tidak tampak, agar ia tidak merasakan sedikit kekhawatiran pun sebelum meninggalkanku pergi. Setelah tiga tahun yang dipenuhi penantian, kesepian, dan air mata yang tidak sedikit, aku mendengar kabar kelulusannya. Tentu saja aku kegirangan, karena itu artinya kami akan kembali bertemu. Tetapi, belum ada kepastian soal kepulangannya pada saat itu.

Minggu lalu, dengan sangat tiba-tiba ia menelepon untuk memberitakan soal kepulangannya kembali ke Indonesia. Saat aku bertanya soal jam kedatangannya, ia tidak bisa memberi kepastian karena pada penerbangan internasional jarak jauh terkadang terjadi kejadian-kejadian yang tak terduga yang bisa mempengaruhi jam kedatangan. Ia hanya berkata bahwa ia meninggalkan London pada tanggal 22 Desember, agar bisa sampai tepat waktu saat hari libur Natal tiba. Ia juga berkata bahwa ini adalah kali terakhir ia bisa menghubungiku sebelum ia benar-benar sampai, sebab ia akan sibuk dengan segala urusan soal imigrasi dan kepindahannya kembali ke Indonesia. Karena itulah, ia tidak memperbolehkanku menjemputnya di bandara. Tunggulah aku di rumah, katanya.

Deminya, aku mempersiapkan segalanya. Mulai dari membersihkan rumah, memasang kerai yang baru kubeli yang senada dengan kamar tidurku yang serba putih, membuatkan panekuk kesukaannya, hingga menyiapkan air hangat di bak mandi yang siap untuk digunakan guna melepas letih dari perjalanan jauh yang ditempuhnya.

Menit demi menit, jam demi jam. Waktu pun berlalu, tapi tidak kunjung muncul satu pun tanda kepulangan dirinya. Sedari pagi buta aku menanti kedatangannya, karena ia hanya memberitahukan hari keberangkatannya. Hingga pukul 10 malam langkah kaki yang kutunggu pun tak kunjung terdengar, padahal aku sudah mulai mengantuk. Tetapi biarlah rasa lelah ini meluluh-lantakkan tubuhku asal aku bisa menyambut kedatangannya, pikirku. Akan tetapi, rupanya diriku terlalu penat. Seiring waktu berjalan, kantuk mulai menjalar ke seluruh badanku. Mataku perlahan terpejam, kesadaranku semakin lama semakin hilang.

Hingga akhirnya terdengarlah suara pintu rumah terbuka, suara yang sudah terlalu lama kudambakan―suara yang kutunggu-tunggu bahkan sejak terakhir aku memandangi punggungnya dengan seksama, saat ia bergegas menghampiri taksi yang akan membawanya selangkah lebih dekat menuju impiannya. Seketika keletihan yang menghinggapi diriku pun hilang. Langkahku menderap, hatiku berdegup kencang, tak sabar ingin melihat wajahnya. Jiwa ini ingin segera melepas kerinduan yang mendalam, raga ini ingin segera merengkuh tubuhnya erat-erat. Mataku terpaku ketika melihat sosoknya yang basah kuyup karena hujan.

Dengan seketika kujulurkan tanganku dan kubenamkan wajahku di pundaknya, sebelum ia bahkan bisa menutup pintu rumah. Sebelum ia bahkan bisa menjejakkan langkah keduanya ke dalam rumah. Sebelum ia bahkan bisa melepas jas yang dikenakannya. Sebelum ia bahkan bisa berkata,

“Aku pulang.”

* * *

A drawing by him.

2 comments:

  1. Deth, aku ga nyangka kamu punya jiwa melankolis banget..... huhuhu.... ini keren bingit, suka pas bagian membenamkan wajahmu di pundaknya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah iya soalnya aku gak seberapa nunjukin sisi melankolisku out in public, in real life wkwk :') Makasih feedbacknya mbak han! Glad you liked it hehe.

      Delete