Sajak Tanpa Huruf 'i' - Nestapa

Apa kabar, kawanku?
Maaf mengganggu,
Hamba mau beberapa waktu.
Walau hamba tahu,
Betapa kalutnya kau
Kala sang surya jatuh.
Bukannya lancang,
Hamba hanya hendak bersua
Dengan sebuah prosa
Berbekalkan beberapa patah kata
Tentang duka dan lara terbesar
Sepanjang hayat hamba.
Dahulu kala,
Saat hamba baru saja tamat sekolah
Mendamba masa untuk belajar tanpa seragam.
Ayah dan Bunda tak mengajakku ke desa,
Karena upacara kelulusan sekolah hamba.
Sepekan lamanya,
Hamba bersabar menunggu kedatangan mereka.
Malam saat mereka seharusnya pulang,
Ayah dan Bunda tak segera datang
Walau sudah tengah malam.
Rasa-rasanya sebelumnya mereka tak pernah
Terlambat tanpa sebab.
Cemas, hamba menjulurkan lengan
Agar mampu menelepon orang tua
Yang sudah terlalu lama tak berkabar.
Kumandang nada sambung kudengarkan dengan seksama,
Mengharap akan sapaanmu yang khas,
"Ada apa, nak?"
Hamba menunggu lama,
Sangat lama.
Namun suaramu tak kunjung ada,
Hanya dengung-dengung monoton
Yang memekakkan pendengaran.
Rasa takut pun menjalar,
Karena Ayah dan Bunda
Tak segera datang.
Hamba pun terlelap,
Berharap terbangun oleh suara
Ayah dan Bunda mengetuk jendela.
Sayang,
Harap hanyalah harap.
Bahkan setelah sang surya menyapa,
Tak ada tanda-tanda akan sosok keduanya.
Pukul dua belas petang,
Terdengar ketukan jendela rumah.
Hamba senang bukan kepalang,
Karena menyangka bahwa Ayah dan Bunda lah
Yang membuat suara.
Ternyata bukan mereka.
Ternyata hanya Pak RT
Yang sudah tua renta.
Seraya memasang muka muram,
Datang untuk mengantarkan kabar
Bahwa Ayah dan Bunda
Bersama kendaraannya
Telah tak ada.
Dalam sekejap,
Semua senyap.
Hamba
Hampa.
Hamba mau padam,
Layaknya lampu yang telah usang
Lalu lenyap dan terbuang.
Hamba mau tenggelam,
Larut dalam lautan dalam
Menyatu dengan deburan ombak
Yang perlahan tersapu bayu.
Hamba mau musnah.
Tolong,
Lempar saja hamba ke jurang.
Hamba hendak bertemu
Dengan Ayah dan Bunda
Pada ujung lembah yang sama.

No comments:

Post a Comment