Lyn: Inkonsistensi yang Menghambat Mobilitas Masyarakat Urban

Gedung-gedung pencakar langit tegak berdiri menghiasi pemandangan kota. Proyek-proyek apartemen baru kian lama kian banyak. Itulah Kota Surabaya — sebuah kota metropolitan, kota terbesar di Indonesia bagian Timur, yang juga menjadi pusat bisnis dan perdagangan selain Ibu Kota.

Kegiatan di kota metropolitan tentunya menuntut punctuality atau ketepatan waktu sebagai salah satu ciri gaya hidup masyarakat urban: kehidupan yang serba cepat atau fast-paced dengan mobilitas tinggi. Penduduk Kota Surabaya pun begitu, utamanya karena adanya diferensiasi antara distrik bisnis dengan distrik pemukiman, mengharuskan mereka harus rutin melakukan mobilitas dalam kota dari satu tempat ke tempat lan.

Sayangnya, gaya hidup ini kurang didukung oleh keadaan infrastruktur dan fasilitas publik di Kota Surabaya. Tidak tersedianya transportasi publik yang layak guna menyebabkan kemacetan di jalan raya yang makin hari makin bertambah parah, karena masyarakat lebih memilih mengendarai kendaraan pribadi. Permasalahan ini menjadi sebuah lingkaran setan yang tak kunjung selesai dan menghambat perkembangan kota.

Inovasi dan pembaharuan terkait transportasi publik dalam kota seperti hampir tidak ada. Rencana pembangunan monorail yang sempat dicanangkan pun seperti tidak mengalami kemajuan, hingga saat ini masih belum terdengar update terbaru mengenai proyek tersebut.

Penduduk Kota Surabaya pun akhirnya terpaksa harus pasrah dan “puas” dengan beberapa moda transportasi publik dalam kota yang tersedia tanpa adanya struktur dan sistemasi yang jelas serta hampir tidak adanya konsistensi.


Lyn, atau yang lebih akrab disebut Bemo oleh masyarakat Surabaya, merupakan salah satu dari sedikit moda transportasi publik dalam kota yang tersedia sejak lama di Kota Surabaya. Cara menaikinya cukup mudah, karena Lyn melewati jalan yang sama dengan jalan-jalan raya dalam kota. Kita tinggal mencegat di pinggir jalan yang merupakan jalur yang dilewati Lyn. Begitu pula bila kita ingin turun, cukup bilang ke sopir maka ia akan menurunkan kita di pinggir jalan pula.

Lyn berbentuk mobil beroda empat, umumnya penampilannya mirip dengan Suzuki Carry dengan bagian depan berupa tempat duduk sopir dan tempat duduk penumpang serta bagian belakang berupa bangku-bangku yang melingkar. Lyn tidak memiliki pintu yang dibuka-tutup, namun dibiarkan terus terbuka, sehingga dalam sisi keamanan jelas amat kurang.

Agar bisa menjangkau hampir setiap bagian kota, Lyn membagi jalur dan area yang dilewati masing-masing unit. Demi mempermudah masyarakat mengetahui unit mana melewati area apa, Lyn menggunakan sistem kode huruf dan kode warna. Contohnya adalah Lyn O dengan unit berwarna kuning polos melewati jalur Jembatan Merah – Peneleh – Karang Menjangan – Keputih.

Namun sayangnya, sistem sesederhana ini pun sering dilanggar. Hal ini terjadi karena tidak adanya strukturisasi yang jelas, unit Lyn justru banyak dikelola oleh pihak pribadi, bila tidak oleh suatu badan usaha (yang juga dimiliki oleh pribadi) yang mengelola banyak unit sekaligus dan menggunakan sistem bagi hasil dengan sopir yang dipekerjakan.

Karena semuanya tergantung pada pihak pribadi/sopir, penumpang lah yang mendapat getahnya. Sopir tidak fokus mengantarkan penumpang dan bisa saja seenaknya berganti jalur yang tidak sesuai dengan jalur yang seharusnya, hanya karena ia ada urusan di area tersebut. Selain itu, tak jarang pula sopir tiba-tiba menurunkan penumpang di tengah jalan dan menyuruh mereka untuk menunggu Lyn lain lewat, hanya karena pada saat itu ia sedang ada keperluan sehingga tidak melewati jalur yang seharusnya (biasanya karena sang sopir ingin pulang).

Belum lagi permasalahan lain yang merugikan pengguna jalan lain, misalnya berhenti secara mendadak, ngetem atau menanti penumpang di tengah jalan, dan berjalan dengan kecepatan yang amat rendah yang menyebabkan congestion atau kemacetan bagi kendaraan-kendaraan lain di belakangnya.

Di kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia yang seharusnya sudah modern, miris rasanya saat mengetahui ketiadaan moda transportasi publik dalam kota yang memadai dan tersistematis dengan baik.

Seharusnya, pemerintah Kota Surabaya segera menyikapi permasalahan ini agar mobilitas penduduknya di dalam kota terjamin, baik dari sisi keamanan, kenyamanan, maupun kepastian jadwal dan jalur. Bila belum bisa membuat moda transportasi publik dalam kota yang benar-benar baru dalam waktu dekat, setidaknya bisa dilakukan pembaharuan dari moda-moda transportasi publik yang ada agar lebih sistematis dan konsisten.

-

P.S. Check this awesomely made Bemo Route Map project on Behance that fits right within your pocket! Definitely gonna need one for myself.


No comments:

Post a Comment