Antara Etnis dan Agama

Photo Credit

Memasuki bulan Desember, seluruh dunia menyambut datangnya hari Natal secara semarak, tak terkecuali Indonesia. Bahkan dimulai dari akhir November, tampak pusat-pusat perbelanjaan berubah menjadi Eropa dadakan. Baik interior maupun eksterior mal sama-sama dihias dengan dekorasi yang identik dengan Natal, mulai dari pohon cemara yang menjulang tinggi, lilitan lampu kecil yang kerlap-kerlip di sana-sini, salju imitasi, hingga patung manusia salju dari styrofoam.

Apa yang dilakukan oleh manajemen pusat perbelanjaan sudah bisa ditebak, karena strategi promosi musiman semacam itu sudah masuk agenda wajib mereka; begitu pula dengan media.

Berita yang bermunculan di media menjelang datangnya hari Natal pun sudah bisa ditebak, pasti tidak jauh-jauh dari isu yang berhubungan dengan Natal. Kalau tidak soal haram mengucapkan ‘selamat Natal’ bagi yang Muslim, ya soal penggunaan atribut Natal pada pegawai Muslim. Isu-isu semacam ini sebenarnya sudah menjadi ‘lagu lama’ tiap mendekati Natal, sama halnya seperti berita soal warung yang buka saat bulan Ramadhan.

Namun layaknya kacang goreng, isu tersebut tetap laris manis. Masyarakat dari dulu hingga sekarang pun tak kunjung lelah untuk turut berkomentar mengenai isu tersebut, sama halnya dengan FPI yang selalu hadir untuk melakukan sweeping di tempat-tempat sesuai isu yang sedang hangat.

Desember lalu, isu yang ramai menjadi perdebatan publik adalah isu tentang penggunaan atribut Natal pada pegawai Muslim.

Di Surabaya sendiri, puncaknya adalah saat Front Pembela Islam (FPI) melakukan sweeping di berbagai pusat perbelanjaan di berbagai penjuru kota pada tanggal 18 Desember 2016. Mereka menuntut pihak mal untuk menanggalkan semua hal yang bernuansa Natal, mulai dari dekorasi hingga atribut yang dikenakan pegawai, seperti topi Sinterklas atau bando berbentuk tanduk rusa.

Sikap masyarakat Surabaya pada saat itu cenderung cuek, tetapi tak sedikit pula yang mengecam tindakan FPI yang dipandang intoleran di kolom komentar akun Facebook Radio Suara Surabaya, E100, yang mem-posting berita tersebut.

Meski aksi FPI tersebut berlangsung tanpa adanya laporan kekerasan fisik, namun sempat muncul sebuah cerita menarik yang bersirkulasi di media sosial LINE pada hari yang sama. Seorang wanita dengan etnis Jawa yang bekerja di Galaxy Mall Surabaya mengaku ditegur oleh salah seorang anggota FPI karena ia ‘Muslim’ tetapi mengenakan atribut Natal.

Ternyata, wanita tersebut tidak memeluk agama Islam, melainkan Kristen.

Kesalahpahaman ini tak lain disebabkan karena dominant culture atau budaya dominan yang ada di Indonesia berdasarkan etnis dan agama mayoritas: etnis Jawa dan agama Islam. Budaya dominan meliputi hampir seluruh aspek kehidupan di suatu negara, mulai dari sistem pendidikan hingga media.

Dari cerita di atas, masyarakat Indonesia nampak sudah terbiasa dengan representasi yang melanggengkan budaya dominan ini. Identitas kultural suatu etnis seperti sudah dikonstruksi dan diberi label.

Bahkan ketika salah satu surat kabar terkemuka di pulau Jawa memuat berita mengenai isu atribut Natal di media cetak, surat kabar tersebut menyertakan foto pegawai beretnis Jawa sebagai ilustrasi pegawai ‘Muslim’ yang mengenakan atribut Natal.

Padahal, bila tidak ditanya langsung ke orang yang bersangkutan, siapa yang tahu kalau dia seorang Muslim atau bukan?

Begitu pula dengan iklan atau hal-hal lain yang berhubungan dengan perayaan Natal yang ditampilkan di media, model-model yang digunakan kebanyakan yang berasal dari etnis Cina atau ras Kaukasoid, jarang yang menggunakan model dari etnis Jawa; seperti mengatakan bahwa semua orang dengan etnis Jawa adalah Muslim dan semua orang dengan etnis Cina adalah Nasrani.

Dalam bukunya yang berjudul Agents of Power, seorang profesor dari Indiana University J. Herbert Altschull mengatakan bahwa ternyata media massa memiliki kuasa atas ekonomi, politik, dan sosial. Itu artinya secara langsung maupun secara tidak langsung, media bisa mengatur berbagai sendi-sendi negara yang terdiri atas ketiga aspek tersebut.

Maka melalui media, pembentukan identitas kultural yang memiliki hubungan dengan persamaan kebudayaan pada suatu kelompok yang memiliki latar belakang yang sama dapat dilakukan. Dalam hal ini, etnis Jawa dengan latar belakang agamanya adalah Islam, dan etnis Cina dengan latar belakang agamanya adalah Kristen/Katolik.

Selain itu sebagai sarana diseminasi informasi dan ideologi yang masif, media juga memiliki kekuatan untuk mengonstruksi realitas dengan melakukan agenda setting, yakni media bisa mengatur isu apa yang ramai dibicarakan dan menjadi perhatian publik.

Kekuatan inilah yang dimanfaatkan media untuk ‘mengangkat’ suatu isu tertentu, dalam hal ini adalah isu tentang penggunaan atribut Natal pada pegawai Muslim.

Di Indonesia, budaya dominan terlanjur sukses ‘menancapkan’ dirinya dalam-dalam pada pola pikir masyarakat Indonesia yang menyebabkan konstruksi dari identitas kultural. Selain itu, media juga turut melanggengkan budaya dominan sehingga stereotip dan prasangka terhadap etnis-etnis tertentu pun tak kunjung hilang.

Seharusnya, media dapat berkontribusi untuk melakukan suatu dekonstruksi dari budaya dominan yang ada di Indonesia agar tidak terjadi kembali perbedaan perlakuan berdasarkan identitas kultural tertentu yang sebenarnya merupakan pabrikasi dari berbagai pihak dengan kekuatan besar, salah satunya adalah media itu sendiri.

Media harus menjadi suatu naungan bersama yang dapat mengedukasi masyarakat dan menjembatani antara mayoritas dengan budaya dominannya dengan minoritas yang sering dirugikan akibat budaya dominan tersebut.

No comments:

Post a Comment