Silahkan Waria, tapi Buat Kami Tertawa!

Photo Credit

Sudah bukan rahasia lagi bahwa LGBT di Indonesia merupakan salah satu dari mereka yang eksistensinya termarjinalkan, mengingat Indonesia merupakan negara yang religius, non-sekuler, dan tidak mengakui pernikahan sesama jenis.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Google Trends, isu mengenai Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender semakin marak dibicarakan di Indonesia. Statistik menunjukkan bahwa tren pencarian dengan kata kunci “LGBT” di Google dari perangkat berlokasi di Indonesia meningkat drastis dan mencapai titik tertinggi pada bulan Februari 2016. Menariknya, tren pencarian dengan kata kunci “Nabi Luth” menggunakan mesin pencarian terbesar di dunia tersebut juga mencapai titik tertingginya pada bulan dan tahun yang sama.

Bila membahas tentang LGBT, seringkali yang difokuskan hanya pada hubungan sesama jenis saja, yakni Gay atau Lesbian, namun untuk Biseksual maupun Transgender tak banyak dibahas. Padahal, secara kuantitatif representasi Transgender di dunia pertelevisian Indonesia terbilang cukup banyak, walau tidak menggunakan terminologi yang sama.

Di Indonesia, mereka lebih banyak disebut dengan Waria. Kata “Waria” sendiri merupakan akronim yang menurut KBBI memiliki arti wanita pria; pria yang bersifat dan bertingkah laku seperti wanita; pria yang mempunyai perasaan sebagai wanita. Sedangkan Transgender memiliki arti mereka yang perilaku dan/atau penampilannya dianggap tidak sesuai dengan jenis kelaminnya, sehingga bisa disimpulkan bahwa Waria dapat dikategorikan sebagai Transgender. Selain kata “Waria”, masyarakat Indonesia juga biasa menyebutnya dengan kata “Banci”.

Meski representasi Waria di layar kaca Indonesia terhitung cukup banyak, mereka kerap dijadikan sebatas komedi dan bahan tertawaan semata.

Menurut Judith Butler (1990) dalam bukunya yang berjudul Gender Trouble, heteronormativitas yang ada dalam masyarakat menyebabkan adanya konsep gender yang biner dan terbagi hanya menjadi dua; bila tidak maskulin, ya feminin. Limitasi tersebut timbulnya suatu kecemasan apabila ada hal yang melawan model gender biner di atas, salah satunya adalah Transgender.

Julia Kristeva (1982) menganggap bahwa kecemasan tersebut secara tidak sadar diasosiasikan oleh audiens sebagai sesuatu yang “hina” dan menimbulkan rasa jijik. Dideskripsikan olehnya bahwa “kehinaan” tersebut adalah, ‘[w]hat disturbs identity, system, order. That does not respect borders, positions, rules. The in-between, the ambiguous, the composite.’ Namun, rasa jijik yang ditimbulkan tersebut pada akhirnya dijadikan bahan tertawaan karena dianggap sebagai suatu lelucon. Hal itulah yang menyebabkan representasi Waria di layar kaca Indonesia hanya sebagai objek yang digunakan untuk memicu gelak tawa dari audiens.

Di dunia pertelevisian Indonesia sendiri, awal mula kemunculan kultur Waria sebagai bahan komedi bisa ditelusuri dari akhir tahun 1980-an ketika grup pelawak Srimulat terkenal berkat tayangan lawaknya di berbagai stasiun televisi Indonesia. Salah satu anggotanya yang paling terkenal, Tessy, memiliki ciri khas selalu tampil sebagai Waria, dengan menggunakan riasan dan pakaian seperti perempuan. Tessy lah yang pertama kali membuat eksistensi Waria lebih bisa diterima di layar kaca Indonesia, namun hanya sebatas sebagai pelawak. Setelah itu, pemeran Waria dalam acara komedi yang banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia adalah Aming, yang terkenal melalui acara variety show bernama Extravaganza.

Dalam bukunya yang berjudul Transgender on Screen, John Phillips (2006) menyebutkan bahwa penampilan Waria di layar kaca lebih dapat diterima karena adanya persepsi publik yang menyatakan bahwa itu semua hanyalah sebatas akting semata dan bukan merupakan identitas yang sebenarnya sebagai seorang Transgender.

Terbukti beberapa tahun lalu ketika Aming hendak menikahi seorang perempuan yang awalnya diduga laki-laki karena badannya yang kekar dan penampilannya yang macho, publik pun menghakiminya. Namun setelah tahu bahwa ia berjenis kelamin perempuan, dengan cepat hujatan itu berubah menjadi dukungan.

Walau keberadaan Waria di layar kaca Indonesia cukup diterima, sebenarnya jalan menuju penerimaan LGBT di Indonesia memang masih sangat jauh. Karena sesungguhnya Waria hanya diterima bila dijadikan sebagai bahan tertawaan dan bukan diterima sebagai seorang manusia yang utuh; hanya diterima bila mencemooh dirinya sendiri dan bukan diterima sebagai seorang Transgender, hanya diterima bila berakting dan bukan diterima sebagai dirinya sendiri. Waria di televisi hanyalah sekedar badut, seakan-akan slogan untuk dunia pertelevisian Indonesia adalah, “silahkan Waria, tapi jangan lupa buat kami tertawa!”

-

Referensi:
  • Butler, Judith. 1990. Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity. London: Routledge.
  • Kristeva, Julia. 1982. Powers of Horror: an Essay on Abjection (diterjemahkan oleh Leon S. Roudiez). New York: Columbia University Press.
  • Phillips, John. 2006. Transgender on Screen. New York: Springer.

No comments:

Post a Comment