[REVIEW & ANALISIS FILM] 'The Heart of The World' Menurut Perspektif Postmodernisme dalam Teori Komunikasi


The Heart of The World adalah sebuah film pendek karya sutradara asal Kanada yang bernama Guy Maddin. Film tersebut dibuat untuk ditayangkan pada Toronto International Film Festival dan memenangkan banyak penghargaan di enam festival film bergengsi di berbagai negara. The Heart of The World merupakan film yang ditampilkan dalam skema warna hitam putih dan hampir tanpa dialog sama sekali.

Erotisisme Gadis "Barely Legal" sebagai Pemantik Gairah Seksual di Dunia Maya

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), erotisisme adalah “keadaan bangkitnya nafsu berahi”. Tak hanya berupa sekedar penggambaran akan perasaan tersebut, erotisisme juga mencakup segala usaha dan representasi untuk memunculkan perasaan nafsu berahi.

Hal itu semakin diperkuat dengan definisi sederhana dari erotisisme menurut Merriam-Webster, yakni suatu kualitas yang menyebabkan bangkitnya perasaan seksual. Kualitas-kualitas tersebut dapat ditemukan di berbagai hal – mulai dari lukisan, ukiran, dan pahatan, hingga film, fotografi, musik, drama, dan literatur.

Sedangkan “barely legal” adalah istilah yang banyak digunakan oleh penduduk Amerika Serikat untuk menyebut remaja (terutama remaja putri) yang baru berusia 18 tahun. Secara harfiah, barely berarti (1) baru saja (2) hampir tidak, dan legal berarti sah secara hukum. “Barely legal” pun berarti “baru saja sah secara hukum” atau “hampir tidak sah secara hukum”.

Terdapat false sense of security di dalam istilah tersebut, karena adanya kata “hampir”. Seakan-akan seseorang bisa saja melakukan hal yang ilegal, namun mereka tetap aman dan masih bisa menghindar meski hanya berjarak sejengkal dari bahaya tersebut.

“It’s legal, so it’s okay.” Kalimat tersebut menciptakan lingkaran setan yang kerap dijadikan justifikasi pihak-pihak, terutama pria dewasa, yang sexualizing atau mengeksploitasi secara seksual gadis-gadis yang baru berusia 18 tahun.

Usia 18 tahun merupakan usia yang banyak dieksploitasi secara seksual, terutama di internet, karena usia tersebut merupakan usia di mana seorang gadis sebenarnya masih sangat belia dan masih memiliki sifat kekanak-kanakan, tetapi sudah mencapai kedewasaan di mata hukum.

Mereka pun sudah tak lagi dianggap “di bawah umur” dan telah legal untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya dilarang ketika ia masih berusia di bawah 18 tahun, mulai dari mengakses konten-konten dewasa atau memiliki rating 18+ (seperti pornografi) hingga menjalin hubungan seksual dengan siapa pun, berapa pun usia partnernya.

Dalam bukunya yang berjudul The Lolita Effect: The Media Sexualization of Young Girls and What Can We Do About It, Durham (2008, hal. 118) menyatakan bahwa ada penekanan pada aspek youthfulness atau kemudaan di media sebagai seksualitas ideal wanita.