[REVIEW BUKU] 'Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu)' oleh Djenar Maesa Ayu

Judul Buku:
Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu)
Penulis:
Djenar Maesa Ayu
Djenar Maesa Ayu
Penerbit:
PT Gramedia Pustaka Utama
PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit:
Oktober 2004
-
Oktober 2004
-
Apa yang kira-kira akan
terjadi bila masyarakat yang konservatif, tertutup, dan terbiasa menganggap segala
hal yang berhubungan dengan seks sebagai sesuatu yang tabu, tiba-tiba dibombardir
dengan cerpen yang justru malah membahas seksualitas dengan bahasa luar biasa
vulgar? Menuai banyak kontroversi, tentu saja. Menyulut banyak perdebatan,
apalagi. Tetapi kenyataannya tak hanya dimaki, cerpen-cerpen buatan Djenar
Maesa Ayu pun banyak dicintai.
Pada tahun 2004, perempuan
kelahiran Jakarta tersebut mengompilasikan beberapa cerita pendek buatannya
dalam sebuah buku yang berjudul Jangan
Main-Main (dengan Kelaminmu). Hampir semuanya pernah diterbitkan di
beberapa surat kabar maupun majalah terkenal di Indonesia, seperti Harian Kompas, Koran Tempo, Harian Republika,
dan masih banyak lagi.
Buku ini merupakan kumpulan
sebelas cerita pendek yang terdiri dari Jangan
Main-Main (dengan Kelaminmu), Mandi
Sabun Mandi, Moral, Menyusu Ayah, Cermin, Saya adalah
Seorang Alkoholik!, Staccato, Saya
di Mata Sebagian Orang, Ting!, Penthouse 2601, dan Payudara
Nai Nai. Seperti biasanya, Djenar dengan gamblang memaparkan realita
kehidupan perempuan melalui tokoh utama tiap-tiap cerpen (yang memang hampir
semua berjenis kelamin perempuan) yang acap kali dianggap “tak pantas” atau “tidak
baik-baik”, dan berhasil mengeksplorasi sisi seksualitas dari mereka. Gaya penulisan
perempuan kelahiran tahun 1973 ini amat terlihat dalam tiap-tiap cerpen
buatannya – tetap menggunakan bahasa yang vulgar, terang-terangan, blak-blakan,
apa adanya, bahkan bagi sebagian orang bisa dianggap “kasar”. Tapi itulah
Djenar.
Di tengah lenggak-lenggok
karya sastra yang mengagungkan keromantisan hidup indah nan utopis semerbak dengan
kisah cinta penuh fantasi, justru sensasi saat membaca tulisan-tulisan Djenar yang
menyentak dan “nyata” seperti inilah yang memikat hati pembacanya, bahkan
membuat mereka rindu. Bagaimana tidak, rata-rata cerita pendek dalam buku Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu)
bertema hubungan seksual, perselingkuhan, pengkhianatan, pelacuran, pelecehan, dan
pemerkosaan. Jangankan begitu, tema besar dari buku ini secara keseluruhan
adalah seks. Suatu hal yang masih dianggap sangat tabu oleh masyarakat
Indonesia.
Semakin jauh mata menyapu huruf
demi huruf, merangkai kalimat dalam pikiran dari apa yang terlihat, semakin
pembaca dibuatnya terpana atas aspek ke-“nyata”-an dari cerita pendek tersebut.
Ada sedikit perasaan yang terbesit bahwa cerita ini bisa saja merupakan kejadian
yang dialami oleh wanita yang seratus persen nyata, dan perjuangan yang
dihadapi oleh mereka bukan main beratnya. Inilah kekuatan tulisan Djenar. Memaparkan
yang mungkin terjadi dan menggugah emosi para pembacanya untuk merasa simpatik
kepada para pelacur, para kekasih gelap, para wanita binal yang berkali-kali
dijadikan subjek cerita oleh Djenar. Seakan-akan kita bisa mengintip secara
langsung kehidupan mereka yang terkesan “tak terjangkau” dan sehari-harinya terpinggirkan
berkat prasangka kita. Djenar seperti mengajak kita untuk membuka mata kita,
bahwa ada cerita memilukan di balik semua itu.
Secara keseluruhan, Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) merupakan
buku kumpulan cerita pendek yang bisa mempertahankan dengan baik koherensi tema
antar cerpen. Tetapi mengingat betapa gamblangnya bahasa dan bahasan di buku
ini, termasuk membahas tentang pemerkosaan, akan lebih baik bila diberikan peringatan
trigger warning di sampul buku
sebagai sarana preventif untuk pembaca yang memiliki trauma pada hal-hal
tertentu yang bisa tersulut akibat membaca buku ini.
Terlepas dari itu, Djenar
Maesa Ayu berhasil menciptakan rasa penasaran dan tak sabar bagi pembaca untuk
segera menyelesaikan satu cerpen agar bisa membaca cerpen selanjutnya. Berpindah
dari satu cerpen ke cerpen lain merupakan pengalaman yang menyenangkan. Belum lagi
atas keberaniannya mengangkat suatu topik yang mungkin akan membuat sebagian
besar masyarakat Indonesia mengernyitkan dahi, perempuan berusia 43 tahun ini
patut diacungi jempol atas tulisannya yang bisa menciptakan dualitas opini dari
para pembacanya – dimaki dan dicintai.


Comments
Post a Comment